Pengikut

Rabu, 07 November 2012

Cerpen



Mawar Putih
Oleh Holida Hoirunisa
Mawar Putih  di pojok kamar Sevil masih tertata rapih pada vasnya, sudah satu bulan berlalu mawar itu terpajang di sana, warnanya tak lagi putih, sekarang warnanya sama dengan warna vas yang ditempatinya yaitu coklat. Sevil tetap membiarkan mawar itu menghiasi pojok kamarnya di atas meja belajar miliknya, kelihatannya memang tak lagi indah, mawar putih yang sudah tak putih tapi tetap saja Sevil menyebutnya putih.
“Mawar di kamar mu sepertinya minta diganti vi” ibunya berkata, sambil sibuk mencari-cari sesuatu di kamar Sevil.
“Belum saatnya di ganti bu, aku masih suka mawar itu” ujarnya sambil menatap riuh mawar itu dengan sedikit senyum di wajahnya.
Ibunya tersenyum, dia mengerti bahkan paham anak perempuannya itu, mawar itu pemberian Fadil tunangan Sevil, mawar yang diberikan saat Fadil melamar anaknya.
***
September, aku bertemu dengannya, aku mengenalnya melalui perempuan yang cukup dekat denganku, dia mengatakan ada seseorang yang menungguku sampai aku benar-benar lepas dari lelakiku. Memang aku sudah mempunyai lelaki lain sebelum aku bertemu Fadil. Ojos yang mengisi hari-hariku hampir satu tahun ini, hubungan kami memang baik-baik saja. Ojos memang cukup membuatku nyaman tapi ada sikap Ojos yang kurang kusukai dua bulan terakhir ini. Dia mulai sibuk dengan kesenangannya, kami mulai jarang berkomunikasi bahkan saat Ojos pergi mendaki gunung bersama teman kampusnya dia pernah tidak menghubungiku hampir dua minggu, entah tidak ada sinyal atau apa, tapi kurasa ini keterlaluan.
 “Tidak bisakah dia menelpon atau sekedar sms untuk memberi tahu keadaannya, keberadaannya, baik-baikkah, kapan kembali?” gerutuku dalam hati, dengan tangan yang sibuk memutar-mutar telpon seluler  di meja.

Ojos memang bukan tipe laki-laki yang perhatian,  Tapi dalam takaran cuek seorang Ojos dua bulan terakhir ini sudah melebihi ambang batas. Bukan seperti Ojos yang ku kenal dulu.
Aku mulai terbiasa dengan sikap Ojos, aku tidak mempermasalahkan lagi dia tidak menghubungiku, tidak menghabiskan waktu libur bersama. Aku mulai terbiasa tanpa Ojos. Hanya memberi kabar seperlunya, sampai suatu hari aku benar-benar membutuhkan Ojos untuk menjemputku di kampus, tapi Ojos tidak datang, kecewa memang tapi, percuma! aku tau Ojos. aku bingung bagaimana caranya untuk sampai di rumah, sampai perempuan itu menyuruh Fadil untuk mengantarku, sedikit lega dalam hati, setidaknya aku bisa sampai di rumah dengan aman.

Aku dan Fadil mulai dekat, seperti dua sahabat yang sudah berteman cukup lama, Fadil sosok teman yang cukup membuatku nyaman untuk ukuran orang yang baru ku kenal seminggu terakhir ini. Ojos tahu, kupikir dia akan marah karena bisa dibilang waktu ku lebih banyak dihabiskan bersama Fadil dibanding dengannya, tapi ternyata tidak. Karena aku dan Fadil berada di kampus yang sama dan Ojos memang berbeda kampus denganku. Mungkin itu pengertian dari Ojos untuk ku dan nyatanya sampai sekarang kami masih baik-baik saja. Makin hari aku mulai merasa nyaman dengan Fadil, kami bertemu, bicara dan terus bicara, banyak hal yang kami bicarakan bersama, dari mulai guyonan, tugas, bahkan tentang aku dan Ojos. aku mulai merasa hubunganku dan Ojos mulai jauh bahkan seperti berjarak, aku berfikir ada atau tidaknya aku dalam kehidupan Ojos sepertinya sama saja, dia akan baik-baik saja tanpa ku, begitupun sebaliknya. Aku memutuskan hubungan ku dengan Ojos, bukan karena Fadil tapi memang mungkin sudah saatnya merelakan Ojos pergi dengan kebahagiaannya. Seseorang pernah berpesan “jangan memutuskan sesuatu karena sesuatu” dan kupikir aku melakukan ini bukan karena Fadil.

Ojos bilang dia takut membuatku sakit, dia tidak akan memutuskan ku sebelum aku yang mengambil keputusan itu, aku mulai sadar maksud dari sikap Ojos selama ini, Ojos ternyata laki-laki yang begitu perhatian, kami berpisah untuk tak saling membenci.
“Kita berteman baik ya vi” Ojos berkata sambil mengelus lembut kepalaku,”kalo kamu perlu bantuan jangan sungkan untuk bilang ya” katanya sebelum melepaskan pandangannya.
Aku hanya tersenyum, entah kenapa tiba-tiba aku merasa mandul kata-kata, bukan sesuatu yang mudah dipahami bahkan lebih sulit untuk dimengerti.

Hari baru tanpa Ojos, aku yakin bisa berlalu tanpa sendu, rasanya memang sama saja, toh aku sudah terbiasa tanpa kabar dari Ojos dulu, hanya sekarang Ojos bukan siapa-siapaku lagi itu yang membedakan. Seperti biasa aku menghabiskan waktu di kampus bersama Fadil, kami bertemu, bicara dan terus bicara, sampai aku lupa dengan perihku, kita bicara dan terus bicara bukan lagi tentang siapa atau apa, tapi tentang kita.

Kita lupa akan setiap dara dan lelaki yang pernah ada, Fadil berhasil meluluhkan ku. Satu bulan sepertinya cukup untuk saling meyakinkan. kita bicara dan terus bicara, tentang rasa tentang kita. Fadil begitu memperhatikanku, aku seperti menemukan oasis di gurun pasir, perhatian yang tak kudapat dari Ojos dulu aku mendapatnya dari Fadil. Dia selalu mengantar ataupun menjemputku setiap harinya, telpon dan sms pun tidak pernah absen. Dia juga begitu akrab dengan ibu, aku yakin akannya.Kini bukan lagi Sevil dan Ojos, tapi kini Sevil dan Fadil. 

Minggu pagi Fadil mengajak ku pergi dia bilang mau membawaku ke suatu tempat, semua serba mendadak, aku belum minta izin pada ibu, tapi ternyata dia sudah mempersiapkan itu seminggu yang lalu, mulai dari tempat, sampai izin dari ibu. Aku pikir aku tidak akan boleh pergi, karena ibu punya aturan kalau aku mau pergi atau ada acara apapun harus izin jauh-jauh hari. Aku bingung ketika aku bilang ingin pergi ibu mengizinkan. Ternyata Fadil sudah merencanakan semuanya.

Seikat mawar putih dan sebuah kotak disodorkan ke depanku. Apa maksudnya? Apa ini lamaran? Apa ini? Apa? Apa? Tidak terlalu cepatkah? Tapi ini memang lamaran, aku kaku, aku terharu. Fadil membuatku seperti bermimpi saat itu, ternyata apa yang selama ini aku bayangkan saat menjadi gadis kecil ibu, bahwa ketika dewasa nanti aku ada laki-laki yang melamarku seperti dalam dongeng sebelum tidur yang selalu ibu ceritakan. Seorang pangerang berkuda putih datang melamar putri dan mereka hidup bahagia diakhir ceritanya. Dan sekarang aku mengalaminya, Fadil ku melamar ku dan membawakan ku seikat mawar putih. Aku bahagia, ku taruh mawar itu dalam vas berwarna coklat di pojok kamarku, tepat di samping komputer di atas meja belajarku. Seperti sebuah suplemen semangat saat aku mulai bosan bahkan lelah mengerjakan tugas di depan komputer. 
***
Enam bulan sudah Fadil mengisi hari-hariku, tapi kali ini dia tidak seperti Fadilku, diam dan hanya diam, kenapa? Kenapa tak bicara? Ada apa? Sampai suara memecahkan keheningan “Aku tak yakin dengan rasaku, aku takut  melukaimu lebih dalam” katanya sambil menatapku dalam.
Sepetinya oasis di padang pasir ku hanya sebuah fatamorgana. Lagi-lagi ini sebuah kata yang sulit untuk dipahami bahkan lebih sulit untuk dimengerti, aku tak mau dengar, tak kusadari tangisku meluap bahkan lebih dahsyat. Aku pikir Fadil baik.
“Untuk apa semua ini?” hingga akhirnya perkataan itu muncul.
Untuk sekarang aku bingung untuk apa semua ini, untuk apa Fadil datang saat aku masih bersama Ojos, sampai ia membawaku sampai sejauh ini.
“Rasanya kita bicara untuk hal yang sulit untuk kuterima” kata ku.
“Aku masih teringat akan seorang dara yang masih sisakan luka” sambil mencoba menenangkan,memegang tanganku dengan erat.
Banyak hal yang harusnya kita bicarakan, kita pikirkan, bukan sekedar rintihan hati dari seorang hawa. Kita tak lagi bicara. Tentang apapun bahkan tentang kita.
Aku masih di sini, masih menunggu bayangmu hadir, hadiah terindah dari rintihan yang tak terucap. Sampai kita kembali bertemu dan bicara, bertemu dan dipertemukan pada saat yang tepat. Sudah hampir beberapa waktu kau tak bersamaku.
Singkat namun berperan. Aku masih memperhatikanmu sama seperti ketika itu. Aku mungkin bukan perempuan mu lagi, bukan siapa-siapa lagi untukmu. Tapi aku pernah jadi perempuan mu, pernah jadi sesiapa untukmu.
Sampai beberapa waktu berlalu, kau menegurku. Rasanya seperti obat parau kertika itu.
Fadil mengatakan “seberkas lukamu itulah aku”, ia mengatakan langkahnya terlalu jauh dan ini bukan sebuah permainan, sedang dirinya masih bergulat dengan dara di masa lalunya.
Wajahku mirip dengan dara itu, bukan aku yang mengisi hari-harinya, lekas berlalu pintanya.
Aku berdusta ketika, aku mengatakan aku tak lagi mencintaimu, terlalu munafik, mungkin na’if.
Tapi hati tetap kukuh pada rasanya, entah sampai kapan menunggu ikhlas yang tak kunjung datang.
Hari baru Sevil tanpa Fadil, Sama seperti tanpa Ojos, ia ingin berlalu tanpa sendu. Siap atau tidak, suka atau tidak dia harus menjalaninya. Karena bukan tujuan yang terpenting tapi, prosesnya. Banyak hal yang bisa dia lakukan sekarang, itu jauh lebih berarti dibanding mengingat masa lalu yang hanya sisakan luka.
Seikat mawar putih, masih tersimpan apik di dalam vasnya, sampai pada waktunya nanti Sevil merelakannya karena memang sudah saatnya untuk menggatinya dengan mawar yang baru.
27 September 2012



Minggu, 04 November 2012

Review Layar Terkembang




Review Layar Terkembang 

Sultan Takdir Alisjahbana ingin mendobrak paradigma yang sudah tertanam pada bangsa kita, khususnya kaum laki-laki yang selalu memperlakukan wanita tidak bedanya benda mati yang bisa diotak-atik semaunya. STA menggambarkanya melalui karakter Tokoh Tuti yang menggambarkan sikap wanita modern yang menginginkan wanita sejajar dengan pria bahkan tidak menggantungkan segalanya pada pria.
Menurut asumsi saya STA dalam novel Layar Terkembang lebih membandingkan tipe wanita modern dan wanita dulu. Dilihat dari tokoh-tokohnya yaitu Tuti yang merupakan wanita yang digambarkan sebagai wanita modern yang lebih mengutamakan logika daripada perasaannya. Sedang Maria tokoh yang digambarkan oleh STA sebagai tipe wanita dulu yang lebih mengutamakan perasaan dibanding logikannya dan juga tergantung dengan laki-laki (Yusuf).
Diakhir cerita STA mematikan salah satu tokoh yaitu Maria, ini merupakan ciri khas dari poejanga Baroe. Meninggalnya Maria menurut saya STA ingin mengungkapkan bahwa tradisionalitas akan tergantikan oleh modernitas begitu selanjutnya. Karena STA lebih pro ke barat dan sastrawan yang menganut modernitas.
Dua kakak beradik, Maria dan Tuti masing-masing mempunyai perangai yang berbeda. Maria lima tahun lebih muda dari Tuti kakanya yang berusia dua puluh lima tahun. Maria riang prilakunya, manja dan seseorang yang mudah kagum, yang  mudah memuji dan memuja. Sebaliknya Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang melihat segala sesuatunya dengan menimbang dan menimbang dengan keyakinannya atau pemukirannya.
Pertemuan mereka dengan Yusuf dalam sebuah acara, memulai kedekatan Maria dengan Yusuf, Yusuf tertarik dengan Maria. Sifatnya yang manja membuat membuat Yusuf tertarik kepadanya. Seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Melihat tingkah laku adiknya yang seperti terhipnotis oleh cinta kepada Yusuf, Tuti menegur Maria, bahwa cinta membuat perempuan tak lebih dari mainan laki-laki. Maria tak suka dengan nasihat yang diberikan kakaknya. Maria mengatakan bahwa cinta Tuti seperti perdagangan, baik dan buruk ditimbang sampai semiligram, tidak ingin rugi sedikitpun. Wajar saja pertunangannya dengan Hambali putus.
Pertengkaran dengan Maria membuat pergejolakan batin Untuk Tuti. Tuti meresa letih lahir dan batin, entah mengapa hatinya terasa kosong. Perkataan Maria begitu pedas hingga terus terngiang dipikirannya. Dia tidak bisa memusatkan pikirannya untuk menulis laporan untuk Kongres Putri Sedar. Benarkah yang dikatakan Maria? Apakah dia terlalu perhitungan terhadap cinta sehingga Hambali memutuskan pertunanganya. Menurutnya percintaan harus didasari atas saling menghargai, perempuan tidak harus mengikat hati laki-laki oleh karena penyerahannya. Perempuan harus tahu bahwa haknya terlanggar dan harus dihormati juga oleh laki-laki. Agar perempuan senantiasa tidak menjadi permainan laki-laki.
Percintaan Maria dan Yusuf terjalin manis. Tuti makin bergelut dengan dirinya sendiri. Jika Yusuf datang menemui Maria di malam minggu Tuti mengintip dua pasang kekasih itu dari dalam kamarnya dengan kekosongan hati yang makin dia rasakannya. Usianya sudah duapuluh tujuh tahun, usia yang sudah cukup tua untuk ukuran perempuan. Batinya cukup bergejolak akan hal itu, meski Supomo menyatakan ingin menjadikannya istri. Tuti senang akan hal itu, tapi dia bergelut dengan dirinya sendiri, apakah dia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai hanya karena alasan usia yang semakin bertambah. Atau tetap pada prinsipnya, lebih baik tidak menikah dari pada mendapatkan suami yang tidak sepandangan dan sepaham.
Maria jatuh sakit ketika hubungannya dengan Yusuf makin mendalam. Maria mengidap TBC. Yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit yang cukup jauh dari rumahnya, tidak bisa setiap hari kekasih, saudaran, dan orang tua menemuinya. Ketika liburan Yusuf dan Tuti tiap hari pergi bersama menjenguknya. Dalam hati Yusuf dan Tuti tanpa disadari timbul rasa pengartian masing-masing. Tuti menganggap Yusuf sebagai laki-laki yang sepadan, memiliki perasaan yang lapang dan pemikiran yang menghargai keindahan dan kebenaran. Yusuf memandang Tuti sebagai manusia yang memiliki jiwa perjuangan yang ceria dan tulus, tetapi terdapat bagian yang kosong dan sunyi.
Penyakit Maria tidak dapat ditolong. Pada kunjungan terakhir Yusuf dan Tuti sebelum mereka kembali ke Jakarta Maria berpesan “alangkah bahagianya saya di akhirat nanti kalau saya tahu bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya beberapa hari ini ....”   
Pada akhirnya Yusuf dan Tuti berziarah ke makam Maria menjelang pernikahannya, dipenuhi rasa haru yang berkecambung di dalam hati mereka.

Minggu, 03 Juni 2012

Analisis Cerpen "Lima"


1.      Analisis
A.    Pendahuluan
Cerpen,sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang-pendek cerpen memanag tidak ada aturannya. Sebagai sebuah karya fiksi, cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangun imajinatif yang berdiri dengan unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan sebuah cerita yang utuh. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen, yaitu unsur instrinsik dan ekstrinsik.
Pada kesempatan ini saya akan menganalisis sebuah cerpen karya Sheila Hida yang berjudul “Lima”, dengan mengunakan pendekatan objektif. Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya pada karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada apabila tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti.[1] Pendekatan objektif yaitu pendekatan yang menitik beratkan pada karya sastra itu sendiri, pendekatan ini beranggapan karya sastra sebagai sesuatu yang otonom. Sebagai stuktur yang otonom, karya sastra dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya. Oleh karena itu untuk memahami maknanya, karya sastra harus dianalisis berdasarkan srtukturnya sendiri, lepas dari berbagai unsur yang ada di luar struktur signifikansinya.[2]
B.     Definisi Cerpen
Cerpen adalah salah satu bentuk karya fiksi. Bentuk cerita yang pendek sesuai dengan namanya, melibatkan yang serba pendek, baik peristiwa yang diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku, dan jumlah kata yang digunakan.[3]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen adalah akronim dari cerita pendek.[4] Cerita pendek (cerpen), yaitu cerita yang mengambil momen penting dalam lakuan tokoh. Biasanya, cerpen berdurasi tak panjang dan membutuhkan lima sampai lima belas halaman.
C.    Sinopsis Cerpen Lima
Cerpen Lima menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Lima, kegelapan telah menyelimuti penglihatan Lima sejak 6 tahun lalu. Saat listrik mati di desanya. Dia akan betah melihat pemandangan indah yamg terlukis di langit berlama-lama. Ketika leher mulai merasa pegal untuk didongakan ke langit. Lilin adalah sesuatu nomor 2 yang akan dilihat Lima setelah rangkaiaan bintang di langit.
Sejak kecil Lima sangat suka melihat lilin yang dinyalahkan ibunya di teras rumah, ia sering bermain perayaan ulang tahun dengan lilin itu, ibunya akan memyanyikan lagu ulang tahun untuknya setiap kali lilin dinyalakan pada saat listrik padam.
Kini usia Lima hampir 17 tahun. Banyak orang bilang bahwa Lima lebih cantik setelah dia buta. Karena ada yang berubah dengan matanya. Matanya terlihat lebih indah daripada sepasang mata manusia mana pun yang pernah mereka temui. Ditambah dengan hidung mungil mancung tertempel di atas bibirnya yang selalu basah. Pipinya yang putih bersemu merah menambah lima terlihat semakincantik dan anggun. Saat tersenyum, sepasang lesung pipi membuat semua orang yang melihat senyumnya berhenti dengan kesibukannya untuk sekedar menikmati senyum Lima.
Tapi kini Lima jarang senyum. Itu membuat semua orang kebingungan. Dia hanya menghadap lurus ke depan tanpa ekspresi. Dia juga tidak pernah beranjak dari tempat duduknya, tanpa makan dan mandi. Hingga beratus-ratus hari dia seperti itu. Sampai seorang pemuda datang dengan gentoyoran berjalan memasuki rumah Lima. Lalu pemuda itu berkata “aku tak mengerti siapa kau, dan aku juga tidak mengerti siapa mereka yang selalu mengharapkanmu tersenyum.” Pemuda itu meminum isi botol di genggamannya. “untuk apa tersenyum, hah? Dunia ini sudah terbalik dan menggila, buat apa tersenyum pada dunia ini, dunia yang tak mengerti hatimu. Menangislah! Menangislah!” pemuda itu membentak Lima “menangislah kau gadis, menangislah!” kali ini pemuda itu mengguncang-guncang tubuh Lima.
Lima mengngis setelah itu tak tanggung-tanggung Lima menangis dengan menjerit sekuat-kuatnya. Lima menangis sepanjang malam hingga ia tertidur di bahu pemuda itu. Keesokan harinya, pemuda itu lenyap, pemuda mabuk itu yang membuat Lima Menangis dan mengobati kesedihannya.
D.    Analisis Cerpen Lima dengan Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang cenderung membatasi dari pada karya sastra itu sendiri dan sedapat mungkin mengesampingkan data biografik dan historik[5]
a.      Tema
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan antara hubungan makna dengan tujuan pemaparan oleh pengarangnya.[6] Tema atau pokok persoalan cerpen “lima” sesungguhnya terletak pada persoalan kesedihan, bagaimana seorang anak perempuan mengobati kesedihanya. Kutipan “ Dia hanya menghadap lurus ke depan tanpa ekspresi...”
b.      Alur
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk pleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Abrams, 1981: 137). Alur juga dipandang sebagai rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama yang menggerakan jalan cerita melalui rumitan kearah klimaks dan selesaian.[7] Secara singkat alur cerpen Lima dibuka dengan pengenalan situasi, mulai dari cerita pada saat Lima kecil kemudian konflik batin yang dialami oleh Lima, dan diakhiri oleh penyelesaan konflik batin yang dialami oleh Lima. Jadi dapat disimpulkan alurnya adalah campuran dalam arti peristiwa disusun secara kronologi mulai dari flasback (mundur), kemudian kehidupan lima sekarang (alur maju).


c.       Penokohan
Penokohan adalah cara pandang pengarang menyampaikan tokoh tersebut, (Aminuddin, 1984:85)
Ø  Lima: Tokoh utama yang, seorang gadis buta usianya yang usianya hampir 17 tahun namun penglihatannya mulai diselimuti kegelapan sejak 6 tahun lalu. Banyak orang bilang bahwa Lima lebih cantik setelah dia buta. Matanya terlihat lebih indah daripada sepasang mata manusia manapun, hidungnya mungil mancung tertempel di atas bibirnya yang selalu basah, pipinya putih bersemu merah, juga sepasang lesung pipi yang membuat semua orang yang melihatnya berhenti dengan kesibukan mereka untuk sekedar menikmati senyumnya.
Ø  Ibunya Lima: Tokoh yang selalu menemani Lima, yang selalu mengajarkan lima dan memberi semangat kepada Lima mengingatkannya agar tidak sedih dan menangis akan kegelapan yang meyelimuti penglihatannya, terutama agar Lima bisa memainkan biola warisannya seperti dalam petikan cerpen “Biola adalah barang paling berharga yang ibu punya. Jika bukan kau yang mewarisinya, siapa lagi? Dan ketika kau memilikinya, ibu ingin kau juga bisa memainkannya”.
Ø  Para istri: Mereka yang selalu sabar menyuapi, memandikan Lima, menyemprotkan minyak wangi ketika Lima tidak pernah beranjak dari tempat duduknya tanpa makan dan mandi.
Ø  Orang-orang desa: Mereka yang setiap malam selalu setia mananti Lima tersenyum dengan duduk-duduk di pelataran rumahnya. Menurut mereka ada sesuatu yang sangat mereka nikmati saat Lina tersenyum, mata Lima seakan-akan menjadi candu yang harus mereka lihat setiap hari.
Ø  Pemuda mabuk: Pemuda yang membuat Lima menangis dan mengobati kesedihannya. Separti dalam kutipan cerpen Lima “ Hai kau,” bentaknya pada Lima.”aku tak mengerti siapa kau, dan aku tak mengerti siapa mereka yang selalu mengharapkan mu tersenyum.” Pemuda itu meminum isi botol yang ada di genggamannya. “untuk apa tersenyum, Hah? Dunia ini sudah terbalik dan menggila, buat apa tersenyum pada dunia ini, dunia yang tak mengerti hatimu. Menangislah! Menangislah!” emuda itu membentak Lima. “Menagislah kau gadis, Menangislah!”.
d.      Latar
Latar adalah tempat umum (general local), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan tempat (social  Circumstances) dalam setiap episode atau bagian-bagian tempat (Abrams,1981:173).
Ø  Latar waktu : cerpen ini tidak menjelaskan secara detail tahun berapa dan kapan ini terjadi hanya tertulis usia Lima sekarang hampir 17 tahun dan hari ke 221 dan hari ke 365 Lima diam dengan pandangan kosong ke depan, pagi hari, siang hari, sore hari,  malam hari.
Ø  Latar tempat: Teras rumah Lima, sungai.
e.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca (Aminudin,1984:71). Dalam cerpen “Lima” bahasa yang digunakan dalam cerpen ini adalah bahasa sehari-hari.
f.       Sudut Pandang
Sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu, dengan gayanya sendiri.[8] Cerpen “lima” menggunakan sudut pandang orang ketiga.
g.      Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengarangnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok permasalahan, yang ada di dalamnya akan terlibat pandangan hhidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Denagn demikian amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.jadi amanat pokok yang terdapat pada cerpen “lima” karya Sheila Hida adalah bagaimana mengekspresikan kesedihan yang teramat mendalam dan setiap permasalah yang dialami pasti ada penyelesaiannya.
2.      Segi-segi menarik yang terdapat dalam cerpen berjudul Lima karya Sheila Hida
Dalam cerpen ini hal yang menarik dapat terlihat ketika seorang Lima gadis buta yang memiliki kekurangan masih dapat berbuat banyak bagi hidupnya, serta orang-orang disekitarnya. Dia masih bisa membaca, yaitu membaca melalui pendengarannya, ia juga bisa menulis, yaitu menulis dengan lidahnya, yang dimaksud adalah mengucapkan semua yang ingin ditulis melalui lidahnya kepada siapa saja yang dikehendaki. Lima juga masih dapat bermain biola walaupun dia tidak bisa melihat. Hal-hal ini menandakan bahwa orang yang mempunyai keterbatasan dan kekurangan bukan berarti dia harus menyerah dalam keadaan tersebut. Haruslah tetap berusaha tegar dalam hidupnya, meski dengan keterbatasan yang dipunya. Bagi orang yang memilki kelebihan pada dirinya layaknya berkaca dan selalu bersyukur telah diberi kelebihan, manfaatkan kelebihan tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan orang-orang sekitar.

Dalam cerpen ini sosok ibu juga menarik, hal ini dikarenakan dia merupakan Ibu yang memberi pelajaran-pelajaran hidup kepada Lima, serta selalu menyemangati Lima yang memilki keterbatasan, dia selalu mengajarkan Lima bahwa orang yang memilki keterbatasan bukan berarti tidak bisa berbuat banyak. Sosok ibu disini mencerminkan bahwa seorang ibu akan tetap menyemangati anaknya, dan selalu menyayangi anaknya walaupun anaknya memliki keterbatasan didalam kehidupannya. Betapa besarnya kasih sayang ibu terhadap anaknya, dengan kondisi apapun yang terjadi pada anaknya.

Lalu hal menarik lain yaitu para istri dan orang-orang desa, yang selalu merawat Lima, dan menyayangi Lima. Padahal mereka semua tidak ada hubungan darah terhadap Lima, namun mereka menganggap Lima seperti keluarga mereka sendiri. Hal seperti ini layaklah dicontoh, di mana kehidupan antar sesama manusia haruslah saling membantu mereka yang memilki keterbatasan. Saling membantu tanpa melihat hubungan darah, ras, atau hal laiinnya.

Lalu hal menarik yang terakhir adalah Ketika Pemuda yang sedang mabuk itu datang dengan membentak-bentak Lima dan menyuruh Lima menangis, kemudian hal itu membuat Lima menangis sepanjang malam. Yang keesokan harinya Lima berubah yang semula pendiam, kembali ke kehidupan normalnya seperti saat bersama ibunya. hal ini mengingatkan bahwa kesedihan tak ada salahnya untuk diluapkan dengan menangis. Lebih baik menangis apabila mengalami kesedihan, dibanding memendam kesedihan dan berlarut-larut dalam kesedihan tersebut, dan akan jatuh lebih dalam ke kesedihan tersebut.
3.      Kelemahan dalam cerpen berjudul “Lima” karya Sheila Hida
Dalam cerpen ini tidak diceritakan kenapa Lima mengalami kebutaan. Layaknya pengarang bisa mencantumkan penyebab Lima menjadi buta, agar cerita ini makin lengkap dan jelas. Hal ini dikarenakan Lima merupakan tokoh utama dalam cerpen ini.
Penceritaan sosok ibu dalam cerpen ini juga memilki sedikit kelemahan.Dalam cerpen ini sosok ibu tiba-tiba menghilang, dan di dalam cerpen ini tidak dijelaskan penyebab hilangnya sosok ibu dalam cerita. Tidak ada yang tahu sosok ibu dalam cerpen ini menghilang karena meninggal dunia atau pergi meninggalkan Lima, hal ini mungkin akan membuat pembaca sedikit bingung dan menerka-nerka apa yang terjadi dengan sosok ibu.
Begitu pula sosok pemuda mabuk dalam cerpen ini terlihat agak ganjil, hal ini terlihat di mana sosok ini tiba-tiba datang pada malam hari, kemudian menghilang pada esok harinya begitu saja. Menghilangnya tokoh pemuda mabuk ini juga tidak dijelaskan oleh pengarang. Kemudian hal ganjil lainnya terlihat ketika dia dapat meubah sifat Lima yang semula pemurung dan pendiam, membuat Lima kembali tersenyum hanya dalam satu malam. Wajarnya sifat seseorang tidak bisa berubah secara cepat dan drastis seperti itu. Butuh proses dan tahapan-tahapan dalam merubah perilaku atau sifat seseorang.
Lalu kelemahan terakhir banyak kejadian-kejadian aneh dalam cerpen ini yang mungkin tidak bisa diterima dengan logika, hal ini terlihat ketika waktu menunjukkan hari kedua ratus dua puluh satu hari Lima masih diam tidak mau beranjak dari kursinya, makan dan minum pun Lima tidak mau kalau tidak dipaksa, bahkan pada hari ketiga ratus enam puluh lima, Lima masih saja seperti itu. Hal yang makin tidak masuk akal Lima dapat menahan buang hajat selama itu. Kejadian-kejadian ini mungkin tidak bisa diterima oleh logika. Peistiwa-peristiwa aneh seperti itu merupakan salah satu kelemahan-kelamahan yang ada dalam cerpen ini.







DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang: IKIP Malang.
DEPDIKNAS. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Pradotokusomo, Partini Sardjono. 2008. Pengkaji Sastra. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT. Grasindo.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tri, Endah. 2010. Membaca Sastra Dengan Ancangan Literasi Kritis. Jakarta: Bumi Aksara.





[1] Umar Junus, Resepsi sastra: Sebuah Pengantar, (Jakarta: Gramedia,1985) h.2
[2] A.Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, (Jakarta: Pustaka Jaya,1984) h.130-131
[3] Endah Tri, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi Aksara,2010) h. 126
[4] DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008) h. 264
[5] Partini Sardjono Pradotokusumo, Pengkajian Sastra, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,2008), h. 65
[6] Aminudin, Pengantar Apresiasi Sastra, (Malang: IKIP Malang,1987), h. 107-108
[7] Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT. Grasindo), h. 159
[8] Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT.Grasindo,2008)h. 151

Selasa, 29 Mei 2012

Di dalam


Yang tersimpan dan tersembunyi dalam kata yang tak pernah ku ucapkan…
Perasaan yang ku tutup apik yang ku sembunyikan
Kata yang tak pernah aku ungkapkan yang terperangkap dalam kenangan yang mengelantung
Yang tampak tak mau enyah, mengapa tak ada bahagia tanpamu??
Rasa sakitnya takan hilang dalam semalam, entah sampai kapan segala sesuatunya akan membaik
Meskipun rasa sakitnya tak ada yang abadi..

Sabtu, 12 Mei 2012

Puisi


Salah
Yang kupahami…
Cinta bukan mematikan, tapi cinta menghidupkan
Cinta bukan melemahkan, tapi cinta menguatkan
Cinta bukan menyulitkan, tapi cinta memudahkan
Cinta bukan menyakitkan, tapi cinta menyenangkan
Cinta memilih, bukan dipilih
Aku salah dalam caraku mencinta
Salah mengartikan
Salah menggapai
Kemilaunya begitu menggoda
Aku mencintai dalam diam
Aku merindu dalam sepi
Aku berharap dalam semu
Tuhan kau mengerti bahkan paham
Dalam setiap doa yang ku senandungkan ada rintihan rasa yang berkecambuk dalam asa…..

Jumat, 11 Mei 2012

Analisis Cerpen "Jalan Lurus Menuju Mati" Karya Joni Aryadinata


BAB I
PENDAHULUAN
Cerpen, sesuai dengan  namanya, adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang-pendek cerpen memang tidak ada aturannya. Sebagai sebuah karya fiksi, cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangunan  imajinatif  yang berdiri dengan unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan  sebuah cerita yang utuh. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen, yaitu unsur instrinsik dan ekstrinsik.
Pada kesempatan kali ini saya akan menganalisis sebuah cerpen karya Joni Ariadinata yang berjudul Jalan Lurus Menuju Mati, dengan mengunakan pendekatan objektif. Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya pada karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada apabila tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti (Junus, 1985:2).  Pendekatan objektif yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri, pendekatan ini beranggapan karya sastra sebagai sesuatu yang otonom. Sebagai struktur yang otonom, karya sastra dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya. Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari berbagai unsur yang ada di luar struktur signifikansinya (Teeuw, 1984 130-131).







BAB II
A.    Biografi Joni Ariadinata
Joni Aridinata, lahir di Majapahit, Majalengka 23 Juni 1966. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit adalah  Kalil Mati  (Bentang Budaya, 1999),  Kastil Angin Menderu (Indonesia Tera, 2000), Air Kalidera (Aksara Indonesia, 2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (DAR Mizan, 2004). Bersama Taufik Ismail dkk, mengeditori sejumlah buku, antara lain: Horison Sastra Indonesia 1 (Kitab Puisi), Horison Sastra Indonesia 2 (Kitab Cerpen), Horison Sastra 3 (Kitab Novel), Horison Sastra 4 ( Kitab Drama), serta Horison Indonesia 1 dan 2 (Kitab Esei). Buku-buku tersebut, disebarkan untuk menjadi bacaan di perpustakaan-perpustakaan SMA di seluruh Indonesia.
Tahun 1994 meraih penghargaan Cerpenis Terbaik Kompas atas karyanya Lampor. Tahun 1997 meraih penghargaan Cerpenis Terbaik Nasional BSMI atas karyanya Keluarga Murdika. Tahun 1998 mengikuti Writing Program pada Majlis Sastra Asia Tenggara, dan  meraih penghargaan Dewan Kesenian Jakarta atas nominasi karyanya Keluarga Mudrika. Mengikuti pertemuan sastrawan Malaysia di Johor Baru pada tahun 1999. Kemudian Januari hingga April 2001, mengunjungi Eropa atas undangan Festival Winternachten di Deen Haag Belanda
Ia menerima Anugerah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya Malaikat Tak Datang Malam Hari. Tahun 2007 kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari kembali meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa. Hingga kini ia menetap di Yogyakarta, menulis, melukis, sambil membina pondok pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta.
Joni Ariadinata dalam proses kepengrangannya dikenal sebagai penulis yang bereksperimental mencari bentuk kepenulisannya sendri, sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak, Joni Ariadinata banyak menemukan corak baru dalam karya-karyanya.
S. Prasetyo Utomo dalam tulisannya yang berjudul “Generasi Cerpenis Pasca-Seno Gumira Ajidarma”  yang dimuat dalam koran Republika, (Minggu, 13 Januari 2002) menyebut nama Joni Ariadinata sebagai salah satu penulis yang memiliki corak kepengarangan khas, Joni melakukan pembaharuan dalam dunia cerpen. Dia melakukan dengan mereduksi bahasa. hingga menampakan citra puisi dalm narasi-narasinya, ia bisa menghadirkan borok, nanah kehidupan realitas yang sangat  runyam  ke dalam  teks sastra yang penuh simbol, tanda, dan pemaknaan.
Maman S. Mahayana dalam  tulisannya “Potret Manusia Marjinal dalam Cerpen-Cerpen Joni Ariadinata”  Dalam antologi Kali Mati dan Kastil Angin Menderu  ia memperlihatkan potensi kepengarangannya dalam gaya bahasa, ciri yang menonjol dari kedua antologi ini adalah hancurnya tata bahasa baku bahasa Indonesia. Tata kalimat dan unsur-unsur sintaksis dibuat berantakan, tetapi justru dengan begitu imajinasi Joni tampak begitu liar dan terkesan menyimpan sesuatu yang luar biasa dalam karyanya ini.

B.     Sinopsis Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati.
Cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati menceritakan tentang perbandingan dalam menunaikan ibadah  haji jaman dulu dengan jaman sekarang. Masalah  sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah masalah lingkungan hidup, yaitu lingkungan sosial.
Kakek berlayar ke tanah suci, mengarungi samudra luas berbulan-bulan dengan sebuah layar. Pada tahun 1932 memasuki minggu kedua puluh tiga, tiba-tiba pusaran maha-air, menelan ratusan  layar dalam sejarah. Entah empat atau lima tahun umur Soleh ketika Ambu mendekap sambil menangis. Begitu juga dengan Abah ia berlayar  ke tanah suci menyusul kakek yang entah kapan akan kembali.
Berlayar ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat. Seiring kemajuan zaman, lingkungan sosialpun semakin berkembang, perjalanan ke tanah suci tidak lagi seberat dulu. Saai ini kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji telah tersedia.
Wak Sarmun tiba dari Makkah, kedatangannya disambut barisan rebana, dan  azan yang dilantunkan Muazin Wasih. Kini kampung Jahlun telah memiliki seorang haji lagi setelah Haji Kadhib yaitu wak Sarmun yang telah berganti nama pada hari ke tujuh menjadi Haji Majenun. Konon kampung jahlun memiliki dua saf orang-orang yang diakui fasih oleh haji Khadhib, hingga mendapat  jatah istimewa untuk menempati saf pertama dan kedua. Orang kampung telah meninggikan derajat orang yang menunaikan ibadah haji, dan orang tersebut dijadikan imam dalam kehidupan mereka.
Dan Soleh adalah potret dari keterperangahan seorang tokoh, betapa waktu telah berlalu begitu cepat, sepuluh, duapuluh, atau bahkan empat puluh tahun. Tak ada layar yang menghidupkannya kembali pada ambu.  Dan kini Soleh telah begitu tua, bayangan soleh dan jutaan soleh yang lain menempati kenangan haji Kadhib pada panjangnya terowongan Mina. Sedangkan Ambu telah lama terkubur, Sedangkan Abah dan Kakek entah kapan akan kembali. Atau bahkan tidak sama sekali.

C.    Analisis Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati Karya joni Ariadinata
a)      Tema
   Tema adalah  ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperanan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan antara hubungan makna dengan tujuan pemaparan oleh pengarangnya (Aminuddin.1984:107-108). Tema atau pokok persoalan cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” sesungguhnya terletak pada persoalan perbandingan dalam menunaikan ibadah haji pada jaman dulu dan jaman sekarang. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan “… Abahmu akan menyusul kakek ke tanah suci, Abah juga akan hilang seperti kakek, naik di atas kapal  besar, diantar enam gerobak kerbau, membawa peti - peti sakarah yang besar…
Mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan empat puluh tahun. Yang soleh ingat, ketika itu Ambu jadi lebih diam…..

b)     Tokoh, Watak, dan penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh adalah penokohan (Aminudin, 1984:85)
Ditinjau dari peranannya dan keterlibatannya dalam cerita, tokoh dapat dibedakan atas (a) tokoh primer (utama), (b) tokoh skunder (tokoh bawahan), (c) tokoh komplementer (tambahan) (Sujiman, 1988: 17-20; Sukada, 1987: 160; Aminuddin, 1984: 85-87).
Dari cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” tokoh  utamanya adalah Abah, Kakek, Soleh, wak Sarmun, Haji Kadhib. Tokoh bawahannya adalah Ambu, istri wak Sarmun, kepala kampung. Tokoh tambahannya adalah orang – orang kampung jahlun, muazin wasih.
Dilihat dari perkembangan kepribadian tokoh, dapat dibedakan atas tokoh dinamis atau tokoh statis.bila dilihat dari masalah yang dihadapi tokoh dapat dibedakan atas tokoh yang mempunyai karakter sederhana atau kompleks (Aminuddin, 1984:91-92)
Dalam cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” kita dapat melihat bahwa tokoh Haji Kadhib dan Wak sarmun memiliki karakter yang kompleks, Haji Kadhib sesuai namanya Kadhib (bohong), ia memiliki sifat sok tahu, ia cenderung berkuasa terhadap segala hal, karena gelar haji yang melekat pada dirinya menimbulkan status sosial  dalam masyarakat. Wak Sarmun yang berganti nama menjadi Haji Majenun, ia seorang haji yang tidak berilmu.
Sedangkan tokoh Soleh, Abah, Ambu adalah tokoh yang mempunyai karakter sederhana. Isteri Wak Sarmun menggambarkan seorang isteri penurut, rajin, pemurah, penyabar. Seperti dalam kutipan “Siapa yang mampu mengatur peredaran makanan dan minuman yang begini melimpah. Jika bukan isteri solehah, pemurah, dan penyabar.”

c)      Latar
Latar adalah tempat umum (general local), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan masyarakat (social circumstances) dalam setiap episode atau bagian – bagian tempat (Abrams,1981:173).
Ø  Latar  waktu:   Cerpen ini berlangsung sekitar tahun 1932. Seperti yang ada dalam kutipan “Pada tahun 1932, dalam buku terhitung”. Selain itu latar waktu dapat dilihat dari tahun penulisan cerpen ini pada tahun 1994-1995,
Ø  Latar tempat    : Jawa Barat, kampung Jahlun, Samudera Hindia, bandara Soekarno-Hatta, Makkah (tanah suci).  Yang menunjukan latar tempat ini berada di daerah Jawa Barat dapat dilihat dari  latar belakang kehidupan pengarang yang berasal dari daerah Jawa Barat (Majalengka). Selain itu juga yang menunjukan cerpen  ini  berlangsung di Jawa Barat dilihat dari pengarang  menggunakan kata Ambu (Sunda): Panggilan untuk ibu, Abah (Sunda): Panggilan untuk Ayah,  kolotokan (Sunda): Lonceng pada leher kerbau, ujang (Sunda): Panggilan Untuk anak laki-laki, Dipiring (Sunda): diiringi/disertai, sakarah (Sunda): uman Kotak besar  terbuat dari kayu untuk mengamankan barang-barang jamaah haji.   

d)     Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelekual dan emosi pembaca (Aminuddin, 1984:71).
Dalam cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” Bahasa yang digunakan dalam cerpen  ini adalah bahasa sehari-hari, kalimatnya pendek-pendek, namun pengarang menggunakan beberapa majas dalam cerpen ini diantaranya:
Personifikasi          : “Dalam letih kelebat terpal serta angguk-     angguk  malas bendera negara”
Hiperbola                 : “Ada pusaran maha-air”
Simile                        : “bergangsing seperti tarian mabuk”
e)      Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang mengerakan jalan cerita melalui rumitan kearah klimaks dan selesaian.
Ada berbagai pendapat tentang tahapan-tahapan peristiwa dalam suatu cerita. Aminuddin (1984:94) membedakan tahap-tahap peristiwa atas pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, peleraian, dan penyelesaian.
Ø  Pengenalan, adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita rekaan yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Dalam cerpen Jalan Lurus Menuju Mati dapat kita ketahui tokoh-tokohnya seperti Abah, Ambu, Soleh, Wak Sarmun, Haji Kadhib, istri Wak Sarmun, Muazin Wasih, dan orang-orang kampung jahlun
Ø  Konflik atau tikaian, adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita rekaan. Pertentangan ini bisa terjadi dalam diri satu tokoh, antar dua tokoh, antar tokoh dan masyarakat atau lingkunganny, antar tokoh dan alam, antar tokoh dan Tuhan, serta konflik lahir dan konflik batin. pada kutipan “entah berapa lama, soleh tak pernah mengingatnya lagi. Mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan empat puluh tahun. Yang soleh ingat, ketika itu ambu jadi lebih diam. Jika malam, ambu mengaji dengan suara pelan. Kemudian, mengelus-elus rambut soleh dan bertanya sebelum tidur, “apakah kamu sudah berdoa untuk kakek dan abah, ujang?” soleh mengangguk meskipun sungguh tak mengerti. Semua orang kampung berdoa karena abah dan kakek berlayar ke Tanah Suci. Untuk apa ke Tanah Suci? Dapat kita lihat ada konflik batin dalam diri Soleh.
Ø  Komplikasi atau rumitan, dalam tahap ini konflik yang terjadi semakin tajam karena berbagai sebab dan kepentingan yang berbeda dari setiap tokoh
“Mengarungi samudra luas berbulan-bulan dengan sebuah layar adalah permainan maut. Sungguh tak terpikirkan andaikan bukan milik jiwa-jiwa perkasa karena selembar nyawa sungguh amat berharga. Adakah jiwa yang lebih besar dari pada seseorang dengan kerelaan, tulus mengorbankan seluruh apa yang ia miliki demi tumpahan air mata dipadang lepas dengan teriakan labbaik Allahumma labbaik?”
Ø  Klimaks, puncak rumitan yang diikuti oleh krisis titik balik
“Manakala daging menjadi satu noktah di titik badai semesta, atau kaki-kaki melepuh di atas hamparan pasir terbakar matahari begitu dekat, dalam perjalanan bukit-bukit,berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun…tumbuhlah kemudian adalah hati karena hidup adalah keteduhan pengabdian. Kematian adalah cahaya.”.
Ø  Leraian pada tahap ini peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan lakuan perkembangan kearah selesai. Kita lihat kutipan “dan  Soleh adalah potret dari keterperangaan seorang tokoh, betapa waktu telah berlalu begitu cepat; sepuluh, dua puluh,atau empat puluh tahun. Tak ada layar yang menghidupkan kembali kenangannya pada Ambu, pada cerita “ hadra maut” yang abadi, ataupun tentang ribuan unta yang bergerak berhari-hari …..
Ø  Selesaian adalah tahap akhir suatu cerita, dalam tahap ini semua masalah dapat diuraikan  kita lihat kutipan “dan kini, makna itu seolah-olah hilang berabad-abad. Sedangkan, soleh telah begitu tua, sedang Ambu telah lama terkubur di sini, sedang Abah dan Kakek entah kapan akan kembali”
Cerpen jalan lurus Menuju Mati memiliki maju karena ceritanya mengisahkan perjalanan ke Tanah Suci pada zaman dahulu hingga sekarang.
f)       Sudut Pandang
Sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu, dengan gayanya sendiri.
Cerpen “jalan lurus menuju mati” menggunakan sudut pandang orang ketiga.
g)      Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengarangnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok permasalahan, yang di dalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita- cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacannya. Jadi amanat pokok yang terdapat pada cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” karya Joni Aryadinata adalah Perintah untuk menunaikan Ibadah haji semata-mata bukan karena mendambakan status sosial dalam masyarakat, melainkan karena ketaatannya pada Allah semata. Setinggi apapun jabatannya yang membedakan di mata Allah hanyalah ketaqwaannya.


 BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Cerpen Jalain Lurus Menuju Mati karya Joni Ariadinata ini merupakan sebuah cerpen yang menarik, melalui  cerpen ini kita dapat belajar memaknai arti haji yang sesungguhnya. Bahwa perintah untuk menunaikan Ibadah haji semata-mata bukan karena mendambakan status sosial dalam masyarakat, melainkan karena ketaatan kita pada Allah semata.
Melalui cerpen ini juga, kita dapat belajar dari masa lalu, berangkat ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat, namun kini kita mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji, dan  tidak sesulit dahulu. Kita sebagai seorang yang faham akan pengetahuan dan agama, sudah selayaknya mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan dan ketaatan dalam menunaikan ibadah haji yang seakan berkurang.


















DAFTAR PUSTAKA.
http://joniariadinata. Wordpress.com/catatan-perjalanan Oleh Endry Sulisty. (kamis. 12 April 2012 15:55)
http://kumpulanfiksi.wordpress.com/profil penulis/joni ariadinata. (kamis 12 April 2012 13:00)
Ariadinata, Joni.  2004. Malaikat Tak Datang Malam Hari. Jakarta: DAR Mizan.
Siswanto, Dr. Wahyudi.2008. pengantar teori sastra. Jakarta: PT Grasindo.
Junus, Umar. 1998. Resepsi Sastra : Sebuah Pengantar : Jakarta : Gramedia.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang : IKIP Malang.
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York : Holt, Rinehart and Winston.