Mawar
Putih
Oleh
Holida Hoirunisa
Mawar Putih di pojok kamar Sevil masih tertata rapih pada
vasnya, sudah satu bulan berlalu mawar itu terpajang di sana, warnanya tak lagi
putih, sekarang warnanya sama dengan warna vas yang ditempatinya yaitu coklat.
Sevil tetap membiarkan mawar itu menghiasi pojok kamarnya di atas meja belajar
miliknya, kelihatannya memang tak lagi indah, mawar putih yang sudah tak putih
tapi tetap saja Sevil menyebutnya putih.
“Mawar di kamar mu
sepertinya minta diganti vi” ibunya berkata, sambil sibuk mencari-cari sesuatu
di kamar Sevil.
“Belum saatnya di ganti
bu, aku masih suka mawar itu” ujarnya sambil menatap riuh mawar itu dengan
sedikit senyum di wajahnya.
Ibunya tersenyum, dia
mengerti bahkan paham anak perempuannya itu, mawar itu pemberian Fadil tunangan
Sevil, mawar yang diberikan saat Fadil melamar anaknya.
***
September, aku bertemu
dengannya, aku mengenalnya melalui perempuan yang cukup dekat denganku, dia
mengatakan ada seseorang yang menungguku sampai aku benar-benar lepas dari
lelakiku. Memang aku sudah mempunyai lelaki lain sebelum aku bertemu Fadil.
Ojos yang mengisi hari-hariku hampir satu tahun ini, hubungan kami memang
baik-baik saja. Ojos memang cukup membuatku nyaman tapi ada sikap Ojos yang
kurang kusukai dua bulan terakhir ini. Dia mulai sibuk dengan kesenangannya,
kami mulai jarang berkomunikasi bahkan saat Ojos pergi mendaki gunung bersama
teman kampusnya dia pernah tidak menghubungiku hampir dua minggu, entah tidak
ada sinyal atau apa, tapi kurasa ini keterlaluan.
“Tidak bisakah dia menelpon atau sekedar sms
untuk memberi tahu keadaannya, keberadaannya, baik-baikkah, kapan kembali?”
gerutuku dalam hati, dengan tangan yang sibuk memutar-mutar telpon seluler di meja.
Ojos memang bukan tipe
laki-laki yang perhatian, Tapi dalam
takaran cuek seorang Ojos dua bulan terakhir ini sudah melebihi ambang batas.
Bukan seperti Ojos yang ku kenal dulu.
Aku mulai terbiasa
dengan sikap Ojos, aku tidak mempermasalahkan lagi dia tidak menghubungiku,
tidak menghabiskan waktu libur bersama. Aku mulai terbiasa tanpa Ojos. Hanya
memberi kabar seperlunya, sampai suatu hari aku benar-benar membutuhkan Ojos
untuk menjemputku di kampus, tapi Ojos tidak datang, kecewa memang tapi,
percuma! aku tau Ojos. aku bingung bagaimana caranya untuk sampai di rumah,
sampai perempuan itu menyuruh Fadil untuk mengantarku, sedikit lega dalam hati,
setidaknya aku bisa sampai di rumah dengan aman.
Aku dan Fadil mulai
dekat, seperti dua sahabat yang sudah berteman cukup lama, Fadil sosok teman
yang cukup membuatku nyaman untuk ukuran orang yang baru ku kenal seminggu
terakhir ini. Ojos tahu, kupikir dia akan marah karena bisa dibilang waktu ku
lebih banyak dihabiskan bersama Fadil dibanding dengannya, tapi ternyata tidak.
Karena aku dan Fadil berada di kampus yang sama dan Ojos memang berbeda kampus
denganku. Mungkin itu pengertian dari Ojos untuk ku dan nyatanya sampai
sekarang kami masih baik-baik saja. Makin hari aku mulai merasa nyaman dengan
Fadil, kami bertemu, bicara dan terus bicara, banyak hal yang kami bicarakan
bersama, dari mulai guyonan, tugas, bahkan tentang aku dan Ojos. aku mulai
merasa hubunganku dan Ojos mulai jauh bahkan seperti berjarak, aku berfikir ada
atau tidaknya aku dalam kehidupan Ojos sepertinya sama saja, dia akan baik-baik
saja tanpa ku, begitupun sebaliknya. Aku memutuskan hubungan ku dengan Ojos,
bukan karena Fadil tapi memang mungkin sudah saatnya merelakan Ojos pergi
dengan kebahagiaannya. Seseorang pernah berpesan “jangan memutuskan sesuatu
karena sesuatu” dan kupikir aku melakukan ini bukan karena Fadil.
Ojos bilang dia takut
membuatku sakit, dia tidak akan memutuskan ku sebelum aku yang mengambil
keputusan itu, aku mulai sadar maksud dari sikap Ojos selama ini, Ojos ternyata
laki-laki yang begitu perhatian, kami berpisah untuk tak saling membenci.
“Kita berteman baik ya
vi” Ojos berkata sambil mengelus lembut kepalaku,”kalo kamu perlu bantuan
jangan sungkan untuk bilang ya” katanya sebelum melepaskan pandangannya.
Aku hanya tersenyum,
entah kenapa tiba-tiba aku merasa mandul kata-kata, bukan sesuatu yang mudah
dipahami bahkan lebih sulit untuk dimengerti.
Hari baru tanpa Ojos,
aku yakin bisa berlalu tanpa sendu, rasanya memang sama saja, toh aku sudah
terbiasa tanpa kabar dari Ojos dulu, hanya sekarang Ojos bukan siapa-siapaku
lagi itu yang membedakan. Seperti biasa aku menghabiskan waktu di kampus
bersama Fadil, kami bertemu, bicara dan terus bicara, sampai aku lupa dengan
perihku, kita bicara dan terus bicara bukan lagi tentang siapa atau apa, tapi
tentang kita.
Kita lupa akan setiap
dara dan lelaki yang pernah ada, Fadil berhasil meluluhkan ku. Satu bulan
sepertinya cukup untuk saling meyakinkan. kita bicara dan terus bicara, tentang
rasa tentang kita. Fadil begitu memperhatikanku, aku seperti menemukan oasis di
gurun pasir, perhatian yang tak kudapat dari Ojos dulu aku mendapatnya dari
Fadil. Dia selalu mengantar ataupun menjemputku setiap harinya, telpon dan sms
pun tidak pernah absen. Dia juga begitu akrab dengan ibu, aku yakin
akannya.Kini bukan lagi Sevil dan Ojos, tapi kini Sevil dan Fadil.
Minggu pagi Fadil mengajak
ku pergi dia bilang mau membawaku ke suatu tempat, semua serba mendadak, aku
belum minta izin pada ibu, tapi ternyata dia sudah mempersiapkan itu seminggu
yang lalu, mulai dari tempat, sampai izin dari ibu. Aku pikir aku tidak akan
boleh pergi, karena ibu punya aturan kalau aku mau pergi atau ada acara apapun
harus izin jauh-jauh hari. Aku bingung ketika aku bilang ingin pergi ibu mengizinkan.
Ternyata Fadil sudah merencanakan semuanya.
Seikat mawar putih dan
sebuah kotak disodorkan ke depanku. Apa maksudnya? Apa ini lamaran? Apa ini?
Apa? Apa? Tidak terlalu cepatkah? Tapi ini memang lamaran, aku kaku, aku terharu.
Fadil membuatku seperti bermimpi saat itu, ternyata apa yang selama ini aku
bayangkan saat menjadi gadis kecil ibu, bahwa ketika dewasa nanti aku ada
laki-laki yang melamarku seperti dalam dongeng sebelum tidur yang selalu ibu
ceritakan. Seorang pangerang berkuda putih datang melamar putri dan mereka
hidup bahagia diakhir ceritanya. Dan sekarang aku mengalaminya, Fadil ku
melamar ku dan membawakan ku seikat mawar putih. Aku bahagia, ku taruh mawar
itu dalam vas berwarna coklat di pojok kamarku, tepat di samping komputer di
atas meja belajarku. Seperti sebuah suplemen semangat saat aku mulai bosan bahkan
lelah mengerjakan tugas di depan komputer.
***
Enam bulan sudah Fadil
mengisi hari-hariku, tapi kali ini dia tidak seperti Fadilku, diam dan hanya
diam, kenapa? Kenapa tak bicara? Ada apa? Sampai suara memecahkan keheningan “Aku
tak yakin dengan rasaku, aku takut melukaimu lebih dalam” katanya sambil
menatapku dalam.
Sepetinya oasis di
padang pasir ku hanya sebuah fatamorgana. Lagi-lagi ini sebuah kata yang sulit
untuk dipahami bahkan lebih sulit untuk dimengerti, aku tak mau dengar, tak
kusadari tangisku meluap bahkan lebih dahsyat. Aku pikir Fadil baik.
“Untuk apa semua ini?”
hingga akhirnya perkataan itu muncul.
Untuk sekarang aku
bingung untuk apa semua ini, untuk apa Fadil datang saat aku masih bersama
Ojos, sampai ia membawaku sampai sejauh ini.
“Rasanya kita bicara
untuk hal yang sulit untuk kuterima” kata ku.
“Aku masih teringat
akan seorang dara yang masih sisakan luka” sambil mencoba menenangkan,memegang
tanganku dengan erat.
Banyak hal yang
harusnya kita bicarakan, kita pikirkan, bukan sekedar rintihan hati dari
seorang hawa. Kita tak lagi bicara. Tentang apapun bahkan tentang kita.
Aku masih di sini,
masih menunggu bayangmu hadir, hadiah terindah dari rintihan yang tak terucap.
Sampai kita kembali bertemu dan bicara, bertemu dan dipertemukan pada saat yang
tepat. Sudah hampir beberapa waktu kau tak bersamaku.
Singkat namun berperan.
Aku masih memperhatikanmu sama seperti ketika itu. Aku mungkin bukan perempuan
mu lagi, bukan siapa-siapa lagi untukmu. Tapi aku pernah jadi perempuan mu,
pernah jadi sesiapa untukmu.
Sampai beberapa waktu
berlalu, kau menegurku. Rasanya seperti obat parau kertika itu.
Fadil mengatakan
“seberkas lukamu itulah aku”, ia mengatakan langkahnya terlalu jauh dan ini
bukan sebuah permainan, sedang dirinya masih bergulat dengan dara di masa
lalunya.
Wajahku mirip dengan
dara itu, bukan aku yang mengisi hari-harinya, lekas berlalu pintanya.
Aku berdusta ketika,
aku mengatakan aku tak lagi mencintaimu, terlalu munafik, mungkin na’if.
Tapi hati tetap kukuh
pada rasanya, entah sampai kapan menunggu ikhlas yang tak kunjung datang.
Hari baru Sevil tanpa
Fadil, Sama seperti tanpa Ojos, ia ingin berlalu tanpa sendu. Siap atau tidak,
suka atau tidak dia harus menjalaninya. Karena bukan tujuan yang terpenting
tapi, prosesnya. Banyak hal yang bisa dia lakukan sekarang, itu jauh lebih
berarti dibanding mengingat masa lalu yang hanya sisakan luka.
Seikat mawar putih,
masih tersimpan apik di dalam vasnya, sampai pada waktunya nanti Sevil
merelakannya karena memang sudah saatnya untuk menggatinya dengan mawar yang
baru.
27 September
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar