Pengikut

Minggu, 04 November 2012

Review Layar Terkembang




Review Layar Terkembang 

Sultan Takdir Alisjahbana ingin mendobrak paradigma yang sudah tertanam pada bangsa kita, khususnya kaum laki-laki yang selalu memperlakukan wanita tidak bedanya benda mati yang bisa diotak-atik semaunya. STA menggambarkanya melalui karakter Tokoh Tuti yang menggambarkan sikap wanita modern yang menginginkan wanita sejajar dengan pria bahkan tidak menggantungkan segalanya pada pria.
Menurut asumsi saya STA dalam novel Layar Terkembang lebih membandingkan tipe wanita modern dan wanita dulu. Dilihat dari tokoh-tokohnya yaitu Tuti yang merupakan wanita yang digambarkan sebagai wanita modern yang lebih mengutamakan logika daripada perasaannya. Sedang Maria tokoh yang digambarkan oleh STA sebagai tipe wanita dulu yang lebih mengutamakan perasaan dibanding logikannya dan juga tergantung dengan laki-laki (Yusuf).
Diakhir cerita STA mematikan salah satu tokoh yaitu Maria, ini merupakan ciri khas dari poejanga Baroe. Meninggalnya Maria menurut saya STA ingin mengungkapkan bahwa tradisionalitas akan tergantikan oleh modernitas begitu selanjutnya. Karena STA lebih pro ke barat dan sastrawan yang menganut modernitas.
Dua kakak beradik, Maria dan Tuti masing-masing mempunyai perangai yang berbeda. Maria lima tahun lebih muda dari Tuti kakanya yang berusia dua puluh lima tahun. Maria riang prilakunya, manja dan seseorang yang mudah kagum, yang  mudah memuji dan memuja. Sebaliknya Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang melihat segala sesuatunya dengan menimbang dan menimbang dengan keyakinannya atau pemukirannya.
Pertemuan mereka dengan Yusuf dalam sebuah acara, memulai kedekatan Maria dengan Yusuf, Yusuf tertarik dengan Maria. Sifatnya yang manja membuat membuat Yusuf tertarik kepadanya. Seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Melihat tingkah laku adiknya yang seperti terhipnotis oleh cinta kepada Yusuf, Tuti menegur Maria, bahwa cinta membuat perempuan tak lebih dari mainan laki-laki. Maria tak suka dengan nasihat yang diberikan kakaknya. Maria mengatakan bahwa cinta Tuti seperti perdagangan, baik dan buruk ditimbang sampai semiligram, tidak ingin rugi sedikitpun. Wajar saja pertunangannya dengan Hambali putus.
Pertengkaran dengan Maria membuat pergejolakan batin Untuk Tuti. Tuti meresa letih lahir dan batin, entah mengapa hatinya terasa kosong. Perkataan Maria begitu pedas hingga terus terngiang dipikirannya. Dia tidak bisa memusatkan pikirannya untuk menulis laporan untuk Kongres Putri Sedar. Benarkah yang dikatakan Maria? Apakah dia terlalu perhitungan terhadap cinta sehingga Hambali memutuskan pertunanganya. Menurutnya percintaan harus didasari atas saling menghargai, perempuan tidak harus mengikat hati laki-laki oleh karena penyerahannya. Perempuan harus tahu bahwa haknya terlanggar dan harus dihormati juga oleh laki-laki. Agar perempuan senantiasa tidak menjadi permainan laki-laki.
Percintaan Maria dan Yusuf terjalin manis. Tuti makin bergelut dengan dirinya sendiri. Jika Yusuf datang menemui Maria di malam minggu Tuti mengintip dua pasang kekasih itu dari dalam kamarnya dengan kekosongan hati yang makin dia rasakannya. Usianya sudah duapuluh tujuh tahun, usia yang sudah cukup tua untuk ukuran perempuan. Batinya cukup bergejolak akan hal itu, meski Supomo menyatakan ingin menjadikannya istri. Tuti senang akan hal itu, tapi dia bergelut dengan dirinya sendiri, apakah dia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai hanya karena alasan usia yang semakin bertambah. Atau tetap pada prinsipnya, lebih baik tidak menikah dari pada mendapatkan suami yang tidak sepandangan dan sepaham.
Maria jatuh sakit ketika hubungannya dengan Yusuf makin mendalam. Maria mengidap TBC. Yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit yang cukup jauh dari rumahnya, tidak bisa setiap hari kekasih, saudaran, dan orang tua menemuinya. Ketika liburan Yusuf dan Tuti tiap hari pergi bersama menjenguknya. Dalam hati Yusuf dan Tuti tanpa disadari timbul rasa pengartian masing-masing. Tuti menganggap Yusuf sebagai laki-laki yang sepadan, memiliki perasaan yang lapang dan pemikiran yang menghargai keindahan dan kebenaran. Yusuf memandang Tuti sebagai manusia yang memiliki jiwa perjuangan yang ceria dan tulus, tetapi terdapat bagian yang kosong dan sunyi.
Penyakit Maria tidak dapat ditolong. Pada kunjungan terakhir Yusuf dan Tuti sebelum mereka kembali ke Jakarta Maria berpesan “alangkah bahagianya saya di akhirat nanti kalau saya tahu bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya beberapa hari ini ....”   
Pada akhirnya Yusuf dan Tuti berziarah ke makam Maria menjelang pernikahannya, dipenuhi rasa haru yang berkecambung di dalam hati mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar