Review
Layar Terkembang
Sultan
Takdir Alisjahbana ingin mendobrak paradigma yang sudah tertanam pada bangsa
kita, khususnya kaum laki-laki yang selalu memperlakukan wanita tidak bedanya
benda mati yang bisa diotak-atik semaunya. STA menggambarkanya melalui karakter
Tokoh Tuti yang menggambarkan sikap wanita modern yang menginginkan wanita
sejajar dengan pria bahkan tidak menggantungkan segalanya pada pria.
Menurut
asumsi saya STA dalam novel Layar Terkembang lebih membandingkan tipe wanita
modern dan wanita dulu. Dilihat dari tokoh-tokohnya yaitu Tuti yang merupakan
wanita yang digambarkan sebagai wanita modern yang lebih mengutamakan logika
daripada perasaannya. Sedang Maria tokoh yang digambarkan oleh STA sebagai tipe
wanita dulu yang lebih mengutamakan perasaan dibanding logikannya dan juga
tergantung dengan laki-laki (Yusuf).
Diakhir
cerita STA mematikan salah satu tokoh yaitu Maria, ini merupakan ciri khas dari
poejanga Baroe. Meninggalnya Maria menurut saya STA ingin mengungkapkan bahwa
tradisionalitas akan tergantikan oleh modernitas begitu selanjutnya. Karena STA
lebih pro ke barat dan sastrawan yang menganut modernitas.
Dua
kakak beradik, Maria dan Tuti masing-masing mempunyai perangai yang berbeda. Maria
lima tahun lebih muda dari Tuti kakanya yang berusia dua puluh lima tahun.
Maria riang prilakunya, manja dan seseorang yang mudah kagum, yang mudah memuji dan memuja. Sebaliknya Tuti
bukan seorang yang mudah kagum, yang melihat segala sesuatunya dengan menimbang
dan menimbang dengan keyakinannya atau pemukirannya.
Pertemuan
mereka dengan Yusuf dalam sebuah acara, memulai kedekatan Maria dengan Yusuf,
Yusuf tertarik dengan Maria. Sifatnya yang manja membuat membuat Yusuf tertarik
kepadanya. Seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.
Melihat tingkah laku adiknya yang seperti terhipnotis oleh cinta kepada Yusuf,
Tuti menegur Maria, bahwa cinta membuat perempuan tak lebih dari mainan
laki-laki. Maria tak suka dengan nasihat yang diberikan kakaknya. Maria
mengatakan bahwa cinta Tuti seperti perdagangan, baik dan buruk ditimbang
sampai semiligram, tidak ingin rugi sedikitpun. Wajar saja pertunangannya
dengan Hambali putus.
Pertengkaran
dengan Maria membuat pergejolakan batin Untuk Tuti. Tuti meresa letih lahir dan
batin, entah mengapa hatinya terasa kosong. Perkataan Maria begitu pedas hingga
terus terngiang dipikirannya. Dia tidak bisa memusatkan pikirannya untuk
menulis laporan untuk Kongres Putri Sedar. Benarkah yang dikatakan Maria?
Apakah dia terlalu perhitungan terhadap cinta sehingga Hambali memutuskan
pertunanganya. Menurutnya percintaan harus didasari atas saling menghargai,
perempuan tidak harus mengikat hati laki-laki oleh karena penyerahannya.
Perempuan harus tahu bahwa haknya terlanggar dan harus dihormati juga oleh
laki-laki. Agar perempuan senantiasa tidak menjadi permainan laki-laki.
Percintaan
Maria dan Yusuf terjalin manis. Tuti makin bergelut dengan dirinya sendiri.
Jika Yusuf datang menemui Maria di malam minggu Tuti mengintip dua pasang
kekasih itu dari dalam kamarnya dengan kekosongan hati yang makin dia
rasakannya. Usianya sudah duapuluh tujuh tahun, usia yang sudah cukup tua untuk
ukuran perempuan. Batinya cukup bergejolak akan hal itu, meski Supomo
menyatakan ingin menjadikannya istri. Tuti senang akan hal itu, tapi dia
bergelut dengan dirinya sendiri, apakah dia harus menikah dengan orang yang
tidak ia cintai hanya karena alasan usia yang semakin bertambah. Atau tetap
pada prinsipnya, lebih baik tidak menikah dari pada mendapatkan suami yang
tidak sepandangan dan sepaham.
Maria
jatuh sakit ketika hubungannya dengan Yusuf makin mendalam. Maria mengidap TBC.
Yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit yang cukup jauh dari rumahnya,
tidak bisa setiap hari kekasih, saudaran, dan orang tua menemuinya. Ketika
liburan Yusuf dan Tuti tiap hari pergi bersama menjenguknya. Dalam hati Yusuf
dan Tuti tanpa disadari timbul rasa pengartian masing-masing. Tuti menganggap
Yusuf sebagai laki-laki yang sepadan, memiliki perasaan yang lapang dan
pemikiran yang menghargai keindahan dan kebenaran. Yusuf memandang Tuti sebagai
manusia yang memiliki jiwa perjuangan yang ceria dan tulus, tetapi terdapat
bagian yang kosong dan sunyi.
Penyakit
Maria tidak dapat ditolong. Pada kunjungan terakhir Yusuf dan Tuti sebelum
mereka kembali ke Jakarta Maria berpesan “alangkah
bahagianya saya di akhirat nanti kalau saya tahu bahwa kakandaku berdua hidup
rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya beberapa hari ini
....”
Pada
akhirnya Yusuf dan Tuti berziarah ke makam Maria menjelang pernikahannya,
dipenuhi rasa haru yang berkecambung di dalam hati mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar