Pengikut

Jumat, 11 Mei 2012

Analisis Cerpen "Jalan Lurus Menuju Mati" Karya Joni Aryadinata


BAB I
PENDAHULUAN
Cerpen, sesuai dengan  namanya, adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang-pendek cerpen memang tidak ada aturannya. Sebagai sebuah karya fiksi, cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangunan  imajinatif  yang berdiri dengan unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan  sebuah cerita yang utuh. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen, yaitu unsur instrinsik dan ekstrinsik.
Pada kesempatan kali ini saya akan menganalisis sebuah cerpen karya Joni Ariadinata yang berjudul Jalan Lurus Menuju Mati, dengan mengunakan pendekatan objektif. Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya pada karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada apabila tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti (Junus, 1985:2).  Pendekatan objektif yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri, pendekatan ini beranggapan karya sastra sebagai sesuatu yang otonom. Sebagai struktur yang otonom, karya sastra dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya. Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari berbagai unsur yang ada di luar struktur signifikansinya (Teeuw, 1984 130-131).







BAB II
A.    Biografi Joni Ariadinata
Joni Aridinata, lahir di Majapahit, Majalengka 23 Juni 1966. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit adalah  Kalil Mati  (Bentang Budaya, 1999),  Kastil Angin Menderu (Indonesia Tera, 2000), Air Kalidera (Aksara Indonesia, 2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (DAR Mizan, 2004). Bersama Taufik Ismail dkk, mengeditori sejumlah buku, antara lain: Horison Sastra Indonesia 1 (Kitab Puisi), Horison Sastra Indonesia 2 (Kitab Cerpen), Horison Sastra 3 (Kitab Novel), Horison Sastra 4 ( Kitab Drama), serta Horison Indonesia 1 dan 2 (Kitab Esei). Buku-buku tersebut, disebarkan untuk menjadi bacaan di perpustakaan-perpustakaan SMA di seluruh Indonesia.
Tahun 1994 meraih penghargaan Cerpenis Terbaik Kompas atas karyanya Lampor. Tahun 1997 meraih penghargaan Cerpenis Terbaik Nasional BSMI atas karyanya Keluarga Murdika. Tahun 1998 mengikuti Writing Program pada Majlis Sastra Asia Tenggara, dan  meraih penghargaan Dewan Kesenian Jakarta atas nominasi karyanya Keluarga Mudrika. Mengikuti pertemuan sastrawan Malaysia di Johor Baru pada tahun 1999. Kemudian Januari hingga April 2001, mengunjungi Eropa atas undangan Festival Winternachten di Deen Haag Belanda
Ia menerima Anugerah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya Malaikat Tak Datang Malam Hari. Tahun 2007 kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari kembali meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa. Hingga kini ia menetap di Yogyakarta, menulis, melukis, sambil membina pondok pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta.
Joni Ariadinata dalam proses kepengrangannya dikenal sebagai penulis yang bereksperimental mencari bentuk kepenulisannya sendri, sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak, Joni Ariadinata banyak menemukan corak baru dalam karya-karyanya.
S. Prasetyo Utomo dalam tulisannya yang berjudul “Generasi Cerpenis Pasca-Seno Gumira Ajidarma”  yang dimuat dalam koran Republika, (Minggu, 13 Januari 2002) menyebut nama Joni Ariadinata sebagai salah satu penulis yang memiliki corak kepengarangan khas, Joni melakukan pembaharuan dalam dunia cerpen. Dia melakukan dengan mereduksi bahasa. hingga menampakan citra puisi dalm narasi-narasinya, ia bisa menghadirkan borok, nanah kehidupan realitas yang sangat  runyam  ke dalam  teks sastra yang penuh simbol, tanda, dan pemaknaan.
Maman S. Mahayana dalam  tulisannya “Potret Manusia Marjinal dalam Cerpen-Cerpen Joni Ariadinata”  Dalam antologi Kali Mati dan Kastil Angin Menderu  ia memperlihatkan potensi kepengarangannya dalam gaya bahasa, ciri yang menonjol dari kedua antologi ini adalah hancurnya tata bahasa baku bahasa Indonesia. Tata kalimat dan unsur-unsur sintaksis dibuat berantakan, tetapi justru dengan begitu imajinasi Joni tampak begitu liar dan terkesan menyimpan sesuatu yang luar biasa dalam karyanya ini.

B.     Sinopsis Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati.
Cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati menceritakan tentang perbandingan dalam menunaikan ibadah  haji jaman dulu dengan jaman sekarang. Masalah  sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah masalah lingkungan hidup, yaitu lingkungan sosial.
Kakek berlayar ke tanah suci, mengarungi samudra luas berbulan-bulan dengan sebuah layar. Pada tahun 1932 memasuki minggu kedua puluh tiga, tiba-tiba pusaran maha-air, menelan ratusan  layar dalam sejarah. Entah empat atau lima tahun umur Soleh ketika Ambu mendekap sambil menangis. Begitu juga dengan Abah ia berlayar  ke tanah suci menyusul kakek yang entah kapan akan kembali.
Berlayar ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat. Seiring kemajuan zaman, lingkungan sosialpun semakin berkembang, perjalanan ke tanah suci tidak lagi seberat dulu. Saai ini kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji telah tersedia.
Wak Sarmun tiba dari Makkah, kedatangannya disambut barisan rebana, dan  azan yang dilantunkan Muazin Wasih. Kini kampung Jahlun telah memiliki seorang haji lagi setelah Haji Kadhib yaitu wak Sarmun yang telah berganti nama pada hari ke tujuh menjadi Haji Majenun. Konon kampung jahlun memiliki dua saf orang-orang yang diakui fasih oleh haji Khadhib, hingga mendapat  jatah istimewa untuk menempati saf pertama dan kedua. Orang kampung telah meninggikan derajat orang yang menunaikan ibadah haji, dan orang tersebut dijadikan imam dalam kehidupan mereka.
Dan Soleh adalah potret dari keterperangahan seorang tokoh, betapa waktu telah berlalu begitu cepat, sepuluh, duapuluh, atau bahkan empat puluh tahun. Tak ada layar yang menghidupkannya kembali pada ambu.  Dan kini Soleh telah begitu tua, bayangan soleh dan jutaan soleh yang lain menempati kenangan haji Kadhib pada panjangnya terowongan Mina. Sedangkan Ambu telah lama terkubur, Sedangkan Abah dan Kakek entah kapan akan kembali. Atau bahkan tidak sama sekali.

C.    Analisis Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati Karya joni Ariadinata
a)      Tema
   Tema adalah  ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperanan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan antara hubungan makna dengan tujuan pemaparan oleh pengarangnya (Aminuddin.1984:107-108). Tema atau pokok persoalan cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” sesungguhnya terletak pada persoalan perbandingan dalam menunaikan ibadah haji pada jaman dulu dan jaman sekarang. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan “… Abahmu akan menyusul kakek ke tanah suci, Abah juga akan hilang seperti kakek, naik di atas kapal  besar, diantar enam gerobak kerbau, membawa peti - peti sakarah yang besar…
Mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan empat puluh tahun. Yang soleh ingat, ketika itu Ambu jadi lebih diam…..

b)     Tokoh, Watak, dan penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh adalah penokohan (Aminudin, 1984:85)
Ditinjau dari peranannya dan keterlibatannya dalam cerita, tokoh dapat dibedakan atas (a) tokoh primer (utama), (b) tokoh skunder (tokoh bawahan), (c) tokoh komplementer (tambahan) (Sujiman, 1988: 17-20; Sukada, 1987: 160; Aminuddin, 1984: 85-87).
Dari cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” tokoh  utamanya adalah Abah, Kakek, Soleh, wak Sarmun, Haji Kadhib. Tokoh bawahannya adalah Ambu, istri wak Sarmun, kepala kampung. Tokoh tambahannya adalah orang – orang kampung jahlun, muazin wasih.
Dilihat dari perkembangan kepribadian tokoh, dapat dibedakan atas tokoh dinamis atau tokoh statis.bila dilihat dari masalah yang dihadapi tokoh dapat dibedakan atas tokoh yang mempunyai karakter sederhana atau kompleks (Aminuddin, 1984:91-92)
Dalam cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” kita dapat melihat bahwa tokoh Haji Kadhib dan Wak sarmun memiliki karakter yang kompleks, Haji Kadhib sesuai namanya Kadhib (bohong), ia memiliki sifat sok tahu, ia cenderung berkuasa terhadap segala hal, karena gelar haji yang melekat pada dirinya menimbulkan status sosial  dalam masyarakat. Wak Sarmun yang berganti nama menjadi Haji Majenun, ia seorang haji yang tidak berilmu.
Sedangkan tokoh Soleh, Abah, Ambu adalah tokoh yang mempunyai karakter sederhana. Isteri Wak Sarmun menggambarkan seorang isteri penurut, rajin, pemurah, penyabar. Seperti dalam kutipan “Siapa yang mampu mengatur peredaran makanan dan minuman yang begini melimpah. Jika bukan isteri solehah, pemurah, dan penyabar.”

c)      Latar
Latar adalah tempat umum (general local), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan masyarakat (social circumstances) dalam setiap episode atau bagian – bagian tempat (Abrams,1981:173).
Ø  Latar  waktu:   Cerpen ini berlangsung sekitar tahun 1932. Seperti yang ada dalam kutipan “Pada tahun 1932, dalam buku terhitung”. Selain itu latar waktu dapat dilihat dari tahun penulisan cerpen ini pada tahun 1994-1995,
Ø  Latar tempat    : Jawa Barat, kampung Jahlun, Samudera Hindia, bandara Soekarno-Hatta, Makkah (tanah suci).  Yang menunjukan latar tempat ini berada di daerah Jawa Barat dapat dilihat dari  latar belakang kehidupan pengarang yang berasal dari daerah Jawa Barat (Majalengka). Selain itu juga yang menunjukan cerpen  ini  berlangsung di Jawa Barat dilihat dari pengarang  menggunakan kata Ambu (Sunda): Panggilan untuk ibu, Abah (Sunda): Panggilan untuk Ayah,  kolotokan (Sunda): Lonceng pada leher kerbau, ujang (Sunda): Panggilan Untuk anak laki-laki, Dipiring (Sunda): diiringi/disertai, sakarah (Sunda): uman Kotak besar  terbuat dari kayu untuk mengamankan barang-barang jamaah haji.   

d)     Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelekual dan emosi pembaca (Aminuddin, 1984:71).
Dalam cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” Bahasa yang digunakan dalam cerpen  ini adalah bahasa sehari-hari, kalimatnya pendek-pendek, namun pengarang menggunakan beberapa majas dalam cerpen ini diantaranya:
Personifikasi          : “Dalam letih kelebat terpal serta angguk-     angguk  malas bendera negara”
Hiperbola                 : “Ada pusaran maha-air”
Simile                        : “bergangsing seperti tarian mabuk”
e)      Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang mengerakan jalan cerita melalui rumitan kearah klimaks dan selesaian.
Ada berbagai pendapat tentang tahapan-tahapan peristiwa dalam suatu cerita. Aminuddin (1984:94) membedakan tahap-tahap peristiwa atas pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, peleraian, dan penyelesaian.
Ø  Pengenalan, adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita rekaan yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Dalam cerpen Jalan Lurus Menuju Mati dapat kita ketahui tokoh-tokohnya seperti Abah, Ambu, Soleh, Wak Sarmun, Haji Kadhib, istri Wak Sarmun, Muazin Wasih, dan orang-orang kampung jahlun
Ø  Konflik atau tikaian, adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita rekaan. Pertentangan ini bisa terjadi dalam diri satu tokoh, antar dua tokoh, antar tokoh dan masyarakat atau lingkunganny, antar tokoh dan alam, antar tokoh dan Tuhan, serta konflik lahir dan konflik batin. pada kutipan “entah berapa lama, soleh tak pernah mengingatnya lagi. Mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan empat puluh tahun. Yang soleh ingat, ketika itu ambu jadi lebih diam. Jika malam, ambu mengaji dengan suara pelan. Kemudian, mengelus-elus rambut soleh dan bertanya sebelum tidur, “apakah kamu sudah berdoa untuk kakek dan abah, ujang?” soleh mengangguk meskipun sungguh tak mengerti. Semua orang kampung berdoa karena abah dan kakek berlayar ke Tanah Suci. Untuk apa ke Tanah Suci? Dapat kita lihat ada konflik batin dalam diri Soleh.
Ø  Komplikasi atau rumitan, dalam tahap ini konflik yang terjadi semakin tajam karena berbagai sebab dan kepentingan yang berbeda dari setiap tokoh
“Mengarungi samudra luas berbulan-bulan dengan sebuah layar adalah permainan maut. Sungguh tak terpikirkan andaikan bukan milik jiwa-jiwa perkasa karena selembar nyawa sungguh amat berharga. Adakah jiwa yang lebih besar dari pada seseorang dengan kerelaan, tulus mengorbankan seluruh apa yang ia miliki demi tumpahan air mata dipadang lepas dengan teriakan labbaik Allahumma labbaik?”
Ø  Klimaks, puncak rumitan yang diikuti oleh krisis titik balik
“Manakala daging menjadi satu noktah di titik badai semesta, atau kaki-kaki melepuh di atas hamparan pasir terbakar matahari begitu dekat, dalam perjalanan bukit-bukit,berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun…tumbuhlah kemudian adalah hati karena hidup adalah keteduhan pengabdian. Kematian adalah cahaya.”.
Ø  Leraian pada tahap ini peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan lakuan perkembangan kearah selesai. Kita lihat kutipan “dan  Soleh adalah potret dari keterperangaan seorang tokoh, betapa waktu telah berlalu begitu cepat; sepuluh, dua puluh,atau empat puluh tahun. Tak ada layar yang menghidupkan kembali kenangannya pada Ambu, pada cerita “ hadra maut” yang abadi, ataupun tentang ribuan unta yang bergerak berhari-hari …..
Ø  Selesaian adalah tahap akhir suatu cerita, dalam tahap ini semua masalah dapat diuraikan  kita lihat kutipan “dan kini, makna itu seolah-olah hilang berabad-abad. Sedangkan, soleh telah begitu tua, sedang Ambu telah lama terkubur di sini, sedang Abah dan Kakek entah kapan akan kembali”
Cerpen jalan lurus Menuju Mati memiliki maju karena ceritanya mengisahkan perjalanan ke Tanah Suci pada zaman dahulu hingga sekarang.
f)       Sudut Pandang
Sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu, dengan gayanya sendiri.
Cerpen “jalan lurus menuju mati” menggunakan sudut pandang orang ketiga.
g)      Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengarangnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok permasalahan, yang di dalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita- cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacannya. Jadi amanat pokok yang terdapat pada cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” karya Joni Aryadinata adalah Perintah untuk menunaikan Ibadah haji semata-mata bukan karena mendambakan status sosial dalam masyarakat, melainkan karena ketaatannya pada Allah semata. Setinggi apapun jabatannya yang membedakan di mata Allah hanyalah ketaqwaannya.


 BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Cerpen Jalain Lurus Menuju Mati karya Joni Ariadinata ini merupakan sebuah cerpen yang menarik, melalui  cerpen ini kita dapat belajar memaknai arti haji yang sesungguhnya. Bahwa perintah untuk menunaikan Ibadah haji semata-mata bukan karena mendambakan status sosial dalam masyarakat, melainkan karena ketaatan kita pada Allah semata.
Melalui cerpen ini juga, kita dapat belajar dari masa lalu, berangkat ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat, namun kini kita mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji, dan  tidak sesulit dahulu. Kita sebagai seorang yang faham akan pengetahuan dan agama, sudah selayaknya mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan dan ketaatan dalam menunaikan ibadah haji yang seakan berkurang.


















DAFTAR PUSTAKA.
http://joniariadinata. Wordpress.com/catatan-perjalanan Oleh Endry Sulisty. (kamis. 12 April 2012 15:55)
http://kumpulanfiksi.wordpress.com/profil penulis/joni ariadinata. (kamis 12 April 2012 13:00)
Ariadinata, Joni.  2004. Malaikat Tak Datang Malam Hari. Jakarta: DAR Mizan.
Siswanto, Dr. Wahyudi.2008. pengantar teori sastra. Jakarta: PT Grasindo.
Junus, Umar. 1998. Resepsi Sastra : Sebuah Pengantar : Jakarta : Gramedia.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang : IKIP Malang.
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York : Holt, Rinehart and Winston.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar