1.
Analisis
A.
Pendahuluan
Cerpen,sesuai dengan
namanya, adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang-pendek
cerpen memanag tidak ada aturannya. Sebagai sebuah karya fiksi, cerpen
menawarkan sebuah model kehidupan atau bangun imajinatif yang berdiri dengan
unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang
membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan sebuah cerita yang utuh. Ada dua
unsur utama yang terdapat dalam cerpen, yaitu unsur instrinsik dan ekstrinsik.
Pada kesempatan ini
saya akan menganalisis sebuah cerpen karya Sheila
Hida yang berjudul “Lima”, dengan mengunakan pendekatan objektif.
Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan
kajiannya pada karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada apabila
tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti.[1] Pendekatan
objektif yaitu pendekatan yang menitik beratkan pada karya sastra itu sendiri,
pendekatan ini beranggapan karya sastra sebagai sesuatu yang otonom. Sebagai stuktur
yang otonom, karya sastra dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat
dengan unsur-unsur pembangunnya. Oleh karena itu untuk memahami maknanya, karya
sastra harus dianalisis berdasarkan srtukturnya sendiri, lepas dari berbagai
unsur yang ada di luar struktur signifikansinya.[2]
B.
Definisi
Cerpen
Cerpen adalah salah
satu bentuk karya fiksi. Bentuk cerita yang pendek sesuai dengan namanya,
melibatkan yang serba pendek, baik peristiwa yang diungkapkan, isi cerita,
jumlah pelaku, dan jumlah kata yang digunakan.[3]
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, cerpen adalah akronim dari cerita pendek.[4]
Cerita pendek (cerpen), yaitu cerita yang mengambil momen penting dalam lakuan
tokoh. Biasanya, cerpen berdurasi tak panjang dan membutuhkan lima sampai lima
belas halaman.
C.
Sinopsis
Cerpen Lima
Cerpen Lima
menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Lima, kegelapan telah
menyelimuti penglihatan Lima sejak 6 tahun lalu. Saat listrik mati di desanya.
Dia akan betah melihat pemandangan indah yamg terlukis di langit berlama-lama.
Ketika leher mulai merasa pegal untuk didongakan ke langit. Lilin adalah
sesuatu nomor 2 yang akan dilihat Lima setelah rangkaiaan bintang di langit.
Sejak kecil Lima sangat
suka melihat lilin yang dinyalahkan ibunya di teras rumah, ia sering bermain
perayaan ulang tahun dengan lilin itu, ibunya akan memyanyikan lagu ulang tahun
untuknya setiap kali lilin dinyalakan pada saat listrik padam.
Kini usia Lima hampir
17 tahun. Banyak orang bilang bahwa Lima lebih cantik setelah dia buta. Karena
ada yang berubah dengan matanya. Matanya terlihat lebih indah daripada sepasang
mata manusia mana pun yang pernah mereka temui. Ditambah dengan hidung mungil
mancung tertempel di atas bibirnya yang selalu basah. Pipinya yang putih
bersemu merah menambah lima terlihat semakincantik dan anggun. Saat tersenyum,
sepasang lesung pipi membuat semua orang yang melihat senyumnya berhenti dengan
kesibukannya untuk sekedar menikmati senyum Lima.
Tapi kini Lima jarang
senyum. Itu membuat semua orang kebingungan. Dia hanya menghadap lurus ke depan
tanpa ekspresi. Dia juga tidak pernah beranjak dari tempat duduknya, tanpa
makan dan mandi. Hingga beratus-ratus hari dia seperti itu. Sampai seorang
pemuda datang dengan gentoyoran berjalan memasuki rumah Lima. Lalu pemuda itu
berkata “aku tak mengerti siapa kau, dan aku juga tidak mengerti siapa mereka
yang selalu mengharapkanmu tersenyum.” Pemuda itu meminum isi botol di
genggamannya. “untuk apa tersenyum, hah? Dunia ini sudah terbalik dan menggila,
buat apa tersenyum pada dunia ini, dunia yang tak mengerti hatimu. Menangislah!
Menangislah!” pemuda itu membentak Lima “menangislah kau gadis, menangislah!”
kali ini pemuda itu mengguncang-guncang tubuh Lima.
Lima mengngis setelah
itu tak tanggung-tanggung Lima menangis dengan menjerit sekuat-kuatnya. Lima
menangis sepanjang malam hingga ia tertidur di bahu pemuda itu. Keesokan
harinya, pemuda itu lenyap, pemuda mabuk itu yang membuat Lima Menangis dan
mengobati kesedihannya.
D.
Analisis
Cerpen Lima dengan Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan
kajian sastra yang cenderung membatasi dari pada karya sastra itu sendiri dan
sedapat mungkin mengesampingkan data biografik dan historik[5]
a.
Tema
Tema adalah ide yang
mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam
memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan antara
hubungan makna dengan tujuan pemaparan oleh pengarangnya.[6]
Tema atau pokok persoalan cerpen “lima” sesungguhnya terletak pada persoalan
kesedihan, bagaimana seorang anak perempuan mengobati kesedihanya. Kutipan “
Dia hanya menghadap lurus ke depan tanpa ekspresi...”
b.
Alur
Alur adalah rangkaian
cerita yang dibentuk pleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah
cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Abrams, 1981: 137).
Alur juga dipandang sebagai rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan
seksama yang menggerakan jalan cerita melalui rumitan kearah klimaks dan
selesaian.[7] Secara
singkat alur cerpen Lima dibuka dengan pengenalan situasi, mulai dari cerita
pada saat Lima kecil kemudian konflik batin yang dialami oleh Lima, dan
diakhiri oleh penyelesaan konflik batin yang dialami oleh Lima. Jadi dapat
disimpulkan alurnya adalah campuran dalam arti peristiwa disusun secara kronologi
mulai dari flasback (mundur), kemudian kehidupan lima sekarang (alur maju).
c.
Penokohan
Penokohan adalah cara
pandang pengarang menyampaikan tokoh tersebut, (Aminuddin, 1984:85)
Ø Lima:
Tokoh utama yang, seorang gadis buta usianya yang usianya hampir 17 tahun namun
penglihatannya mulai diselimuti kegelapan sejak 6 tahun lalu. Banyak orang
bilang bahwa Lima lebih cantik setelah dia buta. Matanya terlihat lebih indah
daripada sepasang mata manusia manapun, hidungnya mungil mancung tertempel di
atas bibirnya yang selalu basah, pipinya putih bersemu merah, juga sepasang
lesung pipi yang membuat semua orang yang melihatnya berhenti dengan kesibukan
mereka untuk sekedar menikmati senyumnya.
Ø Ibunya
Lima: Tokoh yang selalu menemani Lima, yang selalu mengajarkan lima dan memberi
semangat kepada Lima mengingatkannya agar tidak sedih dan menangis akan
kegelapan yang meyelimuti penglihatannya, terutama agar Lima bisa memainkan
biola warisannya seperti dalam petikan cerpen “Biola adalah barang paling
berharga yang ibu punya. Jika bukan kau yang mewarisinya, siapa lagi? Dan
ketika kau memilikinya, ibu ingin kau juga bisa memainkannya”.
Ø Para
istri: Mereka yang selalu sabar menyuapi, memandikan Lima, menyemprotkan minyak
wangi ketika Lima tidak pernah beranjak dari tempat duduknya tanpa makan dan
mandi.
Ø Orang-orang
desa: Mereka yang setiap malam selalu setia mananti Lima tersenyum dengan
duduk-duduk di pelataran rumahnya. Menurut mereka ada sesuatu yang sangat
mereka nikmati saat Lina tersenyum, mata Lima seakan-akan menjadi candu yang
harus mereka lihat setiap hari.
Ø Pemuda
mabuk: Pemuda yang membuat Lima menangis dan mengobati kesedihannya. Separti
dalam kutipan cerpen Lima “ Hai kau,” bentaknya pada Lima.”aku tak mengerti
siapa kau, dan aku tak mengerti siapa mereka yang selalu mengharapkan mu
tersenyum.” Pemuda itu meminum isi botol yang ada di genggamannya. “untuk apa
tersenyum, Hah? Dunia ini sudah terbalik dan menggila, buat apa tersenyum pada
dunia ini, dunia yang tak mengerti hatimu. Menangislah! Menangislah!” emuda itu
membentak Lima. “Menagislah kau gadis, Menangislah!”.
d.
Latar
Latar adalah tempat
umum (general local), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan tempat
(social Circumstances) dalam setiap
episode atau bagian-bagian tempat (Abrams,1981:173).
Ø Latar
waktu : cerpen ini tidak menjelaskan secara detail tahun berapa dan kapan ini
terjadi hanya tertulis usia Lima sekarang hampir 17 tahun dan hari ke 221 dan
hari ke 365 Lima diam dengan pandangan kosong ke depan, pagi hari, siang hari,
sore hari, malam hari.
Ø Latar
tempat: Teras rumah Lima, sungai.
e.
Gaya
Bahasa
Gaya bahasa adalah cara
pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah
dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh
daya intelektual dan emosi pembaca (Aminudin,1984:71). Dalam cerpen “Lima”
bahasa yang digunakan dalam cerpen ini adalah bahasa sehari-hari.
f.
Sudut
Pandang
Sudut pandang adalah
tempat sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita
tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu, dengan gayanya sendiri.[8]
Cerpen “lima” menggunakan sudut pandang orang ketiga.
g.
Amanat
Amanat adalah gagasan
yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi
bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengarangnya
itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok permasalahan, yang ada di dalamnya akan
terlibat pandangan hhidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan
dengan amanat. Denagn demikian amanat merupakan keinginan pengarang untuk
menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.jadi amanat pokok yang
terdapat pada cerpen “lima” karya Sheila Hida adalah bagaimana mengekspresikan
kesedihan yang teramat mendalam dan setiap permasalah yang dialami pasti ada
penyelesaiannya.
2. Segi-segi
menarik yang terdapat dalam cerpen berjudul Lima karya Sheila Hida
Dalam cerpen ini hal yang menarik
dapat terlihat ketika seorang Lima gadis buta yang memiliki kekurangan masih
dapat berbuat banyak bagi hidupnya, serta orang-orang disekitarnya. Dia masih bisa membaca, yaitu membaca melalui
pendengarannya, ia juga bisa menulis, yaitu menulis dengan lidahnya, yang
dimaksud adalah mengucapkan semua yang ingin ditulis melalui lidahnya kepada siapa saja yang
dikehendaki. Lima juga masih dapat bermain biola walaupun dia
tidak bisa melihat. Hal-hal ini menandakan bahwa orang yang mempunyai
keterbatasan dan kekurangan bukan berarti dia harus menyerah dalam keadaan
tersebut. Haruslah tetap berusaha tegar dalam hidupnya, meski dengan
keterbatasan yang dipunya. Bagi orang yang memilki kelebihan pada dirinya
layaknya berkaca dan selalu bersyukur telah diberi kelebihan, manfaatkan
kelebihan tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan
orang-orang sekitar.
Dalam cerpen ini sosok ibu juga menarik, hal ini dikarenakan dia
merupakan Ibu yang memberi pelajaran-pelajaran hidup kepada Lima, serta selalu
menyemangati Lima yang memilki keterbatasan, dia selalu mengajarkan Lima bahwa
orang yang memilki keterbatasan bukan berarti tidak bisa berbuat banyak. Sosok
ibu disini mencerminkan bahwa seorang ibu akan tetap menyemangati anaknya, dan
selalu menyayangi anaknya walaupun anaknya memliki keterbatasan didalam
kehidupannya. Betapa besarnya kasih sayang ibu terhadap anaknya,
dengan kondisi apapun yang terjadi pada anaknya.
Lalu hal menarik lain yaitu para
istri dan orang-orang desa, yang selalu merawat Lima, dan menyayangi Lima.
Padahal mereka semua tidak ada hubungan darah terhadap Lima, namun mereka
menganggap Lima seperti keluarga mereka sendiri. Hal seperti ini layaklah
dicontoh, di mana kehidupan antar sesama manusia haruslah saling membantu
mereka yang memilki keterbatasan. Saling membantu tanpa melihat hubungan darah,
ras, atau hal laiinnya.
Lalu hal menarik yang terakhir
adalah Ketika Pemuda yang sedang mabuk itu datang dengan membentak-bentak Lima dan menyuruh Lima
menangis, kemudian hal itu membuat Lima menangis
sepanjang malam. Yang keesokan harinya Lima berubah yang semula
pendiam, kembali ke kehidupan normalnya seperti saat bersama ibunya. hal ini
mengingatkan bahwa kesedihan tak ada salahnya untuk diluapkan dengan menangis.
Lebih baik menangis apabila mengalami kesedihan, dibanding memendam kesedihan
dan berlarut-larut dalam kesedihan tersebut, dan akan jatuh lebih dalam ke
kesedihan tersebut.
3.
Kelemahan dalam
cerpen berjudul “Lima” karya Sheila Hida
Dalam cerpen ini tidak diceritakan kenapa Lima mengalami kebutaan.
Layaknya pengarang bisa mencantumkan penyebab Lima menjadi buta, agar cerita
ini makin lengkap dan jelas. Hal ini dikarenakan Lima merupakan tokoh utama
dalam cerpen ini.
Penceritaan sosok ibu dalam cerpen ini juga
memilki sedikit kelemahan.Dalam cerpen ini sosok ibu tiba-tiba menghilang, dan
di dalam cerpen ini tidak dijelaskan penyebab hilangnya sosok ibu dalam cerita.
Tidak ada yang tahu sosok ibu dalam cerpen ini menghilang karena meninggal
dunia atau pergi meninggalkan Lima, hal ini mungkin akan membuat pembaca
sedikit bingung dan menerka-nerka apa yang terjadi dengan sosok ibu.
Begitu pula sosok pemuda mabuk dalam cerpen
ini terlihat agak ganjil, hal ini terlihat di mana sosok ini tiba-tiba datang
pada malam hari, kemudian menghilang pada esok harinya begitu saja.
Menghilangnya tokoh pemuda mabuk ini juga tidak dijelaskan oleh pengarang.
Kemudian hal ganjil lainnya terlihat ketika dia dapat meubah sifat Lima yang
semula pemurung dan pendiam, membuat Lima kembali tersenyum hanya dalam satu
malam. Wajarnya sifat seseorang tidak bisa berubah secara cepat dan drastis
seperti itu. Butuh proses dan tahapan-tahapan dalam merubah perilaku atau sifat
seseorang.
Lalu kelemahan terakhir banyak
kejadian-kejadian aneh dalam cerpen ini yang mungkin tidak bisa diterima dengan
logika, hal ini terlihat ketika waktu menunjukkan hari kedua ratus dua puluh
satu hari Lima masih diam tidak mau beranjak dari kursinya, makan dan minum pun
Lima tidak mau kalau tidak dipaksa, bahkan pada hari ketiga ratus enam puluh
lima, Lima masih saja seperti itu. Hal yang makin tidak masuk akal Lima dapat
menahan buang hajat selama itu. Kejadian-kejadian ini mungkin tidak bisa
diterima oleh logika. Peistiwa-peristiwa aneh seperti itu merupakan salah satu
kelemahan-kelamahan yang ada dalam cerpen ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang: IKIP
Malang.
DEPDIKNAS. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar.
Jakarta: Gramedia.
Pradotokusomo, Partini Sardjono. 2008. Pengkaji Sastra. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Siswanto, Wahyudi.
2008. Pengantar Teori Sastra.
Jakarta: PT. Grasindo.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka
Jaya.
Tri, Endah. 2010. Membaca Sastra Dengan Ancangan Literasi
Kritis. Jakarta: Bumi Aksara.
[1] Umar
Junus, Resepsi sastra: Sebuah Pengantar,
(Jakarta: Gramedia,1985) h.2
[2] A.Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, (Jakarta:
Pustaka Jaya,1984) h.130-131
[3] Endah
Tri, Membaca Sastra dengan Ancangan
Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi Aksara,2010) h. 126
[4]
DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, (Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama, 2008) h. 264
[5] Partini
Sardjono Pradotokusumo, Pengkajian Sastra,
(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,2008), h. 65
[6]
Aminudin, Pengantar Apresiasi Sastra,
(Malang: IKIP Malang,1987), h. 107-108
[7] Wahyudi
Siswanto, Pengantar Teori Sastra,
(Jakarta: PT. Grasindo), h. 159
[8] Wahyudi
Siswanto, Pengantar Teori Sastra,
(Jakarta: PT.Grasindo,2008)h. 151
Tidak ada komentar:
Posting Komentar