Pengikut

Senin, 17 Juni 2013

Analisis Psikologi Tokoh kita dalam Novel Ziarah Karya Iwan Simatupang Dengan Pendekatan Struktural



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sastra adalah pengungkapan masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sastra adalah kekayaan rohani yang dapat memperkaya rohani. Sastrawan dapat dikatakan ilmu jiwa dan filsafat yang mengungkapkan masalah hidup, kejiwaan, dan filsafat, bukan dengan teknis akademis melainkan melaui tulisan sastra.
Novel “ziarah” karya Iwan Simatupang  1969, pada umumnya sulit dimengerti oleh pembaca, sehingga untuk memahami Ziarah, pembaca perlu menggunakan kesadaran filsafat tentang kehidupan dan kematian manusia, pemberontakan, dan kesadaran sosial. Ziarah dianggap sebagai pembaharuan sastra modern karena keluar dari konvensi tradisi hikayat dan menggunakan bahasa filsafat dan tokoh yang disamarkan.
Ziarah karya Iwan Simatupang membawa problematik yang tak habis-habisnya, dengan segala kerumitannya ziarah memiliki sisi menarik yaitu penggambaran tokoh dikenal tanpa nama, para tokoh dikenal dengan nama-nama profesi seperti; bekas pelukis, opseter, walikota, dan sebagainya, karena tidak memiliki nama maka jika tokoh tersebut beralih profesi maka penyebutan namanya pun sesuai profesi yang digelutinya pada saat itu. Ziarah  juga menceritakan tentang dua pusat dunia yaitu kehidupan yang digambarkan oleh tokoh bekas pelukis yang merupakan manusia yang bebas tanpa aturan hidup, tetapi semasa hidupnya karya-karya yang luar biasa sehingga dapat dikenang oleh orang lain bila ia meninggal. Sedangkan pusat dunia kedua yaitu kematian (perkuburan) yang digambarkan oleh tokoh opseter yang sebagian besar hidupnya adalah kehidupan pertapaan dan dihabiskan di daerah perkuburan saja, ketika meninggalpun ia tidak meninggalkan apaun yang dapat dikenang.
Dengan segala kerumitannya dan sisi menariknya penulis mencoba menganalisis novel ziarah karya Iwan Simatupang.




B.     Rumusan Masalah
Berpegang pada uraian latar belakang masalah di atas, kami mengidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana unsur intrinsik yang terkandung dalam novel  Ziarah ?
2.      Bagaimana psikologi tokoh bekas pelukis pada novel Ziarah ?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui unsur intrinsik novel  Ziarah.
2.      Mengetahui psikologi tokoh bekas pelukis pada novel Ziarah.
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Novel ini pernah dikaji oleh Dami N Toda dalam tesisnya yang berjudul Novel Baru Iwan Simatupang yang selesai ditulis pada tahun 1974, kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul yang sama pada tahun 1980. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan. Iwan Simatupang mempunyai ciri dalam satu tema pokok yang sama dalam novel-novelnya, yakni “kegelandangan”. Kegelandangan itu bukan dalam cita rasa material, tetapi mendukung bersusun-susun pertanyaan tentang “kesunyian”. Kesunyian manusia setelah kematian menyusup bagai “peluru buta” dari malam gelap, menguburkan segala kegairahan manusia untuk hidup menurut akal budi dan jadwal rencana kebahagiaan. Penguburan atau pemakaman tanpa persetujuan manusia lebih dulu, tanpa upacara.[1]
Novel Ziarah juga pernah dikaji oleh Ekarini Saraswati dengan judul Struktur Psikis Tokoh Utama Ziarah Karya Iwan Simatupang Dan Novel Saman Karya Ayu Utami: Sebuah Analisis Komparatif Dengan Pendekatan Psikoanalisis Sitgmund Freud. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan. Tokoh Pelukis dalam Ziarah memiliki superego dalam dirinya.[2]











BAB III
BIOGRAFI PENGARANG, LATAR BELAKANG LAHIRNYA KARYA, DAN SINOPSIS NOVEL ZIARAH
A.    Biografi Pengarang
Iwan Maratua Dongan Simatupang lahir di Sibolga, 18/1/1928, putra bungsu dari lima bersaudara. SMA di Padang Sidempuan, tidak selesai, karena pecah perang Aksi Militer II Belanda tahun 1948. Masuk Tentara Republik Indonesia  Pelajar (TRIP) dengan jabatan komandan, di samping ketua penghimpunan Pelajar Indonesia Sumatera Utara. Ditangkap Belanda 13/3/1949, dilepaskan di Medan. Meneruskan sekolah pada HBS V/B Medan. Melanjutkan studi ke Sekolah Kedokteran Surabaya tahun 1953. Meneruskan studi di Negeri Belanda, tahun 1954. Menikah dengan Imelda de Gaine (Corrine) akhir tahun 1955. Belajar Antropologi di Leiden tahun 1956. Tahun 1957 belajar pada Full Course International Institute For Social Studies di Den Haag, dan Ecole de L’Europe (Brugge), sambil belajar drama di Amsterdam. Tahun 1958 belajar Filsafat pada Prof. Jean Wahl di Sorbonne (Paris). Kembali ke Indonesia pata tahun yang sama, tinggal sebentar di Cipanas, lalu Bogor. Tahun 1960, isterinya meninggal sakit tifus, meninggalkan dua putra, Ino Alda (1958), Ion Portibi (1960). Iwan sangat menderita karena kehilangan isteri itu. Tahun yang sama hampir enam bulan dirawat di Klinik Sakit Jiwa dengan komplikasi Bronchitis. Novel Ziarah (ditulis sebelum 15/10/1960 hingga 10/11/1960) khusus sebagai novel persembahan pada isterinya. Itulah novel Iwan pertama. Tahun 1961 (10/6) Iwan mengawini Dra. Tanneke Burki, Ballerina Bandung. Resepsi pernikahan sebulan sesudahnya, 8/7/1961. Perkawinan itu melahirkan seorang anak perempuan, tetapi 3 tahun kemudian berakhir dengan perceraian. Berturut-turut Iwan bekerja pada ATNI Bandung (sebagai dosen), Pingkan Film Corporation, Zebra Film (sebagai pimpinan). Wartawan (pemimpin) Warta Harian (Jakarta). Sekitar Mei/Juni 1967 dirawat di Rumah Sakit Cikini, mengidap sakit jantung, darah tinggi, kencing manis, sakit kuning. Bulan Maret/April 1968 dirawat di Rumah Sakit ST. Santa Carolus Jakarta.
Surat-surat pribadinya pada H.B.Jassin, sering menyinggung mautnya yang mendekat. Arwah isterinya, dikatakan selalu terbayang menjemputnya. Tibalah saat itu. Meninggal di rumah kakak perempuanya, Jl. Kencana 11, Jakarta, 4/8/1970, pada pukul 10 pagi.
Semasa hidupnya Iwan banyak menulis essai, (sedikit) puisi, drama, (Taman, 1958, Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar, 1957, Kaktus dan kemerdekaan, 1969) dan cerita pendek. Tulisannya antara lain diumumkan majalah siasat, konfrontasi, zenith, sastra, De Groene Amsterdammer, De Nieuwsgier, Gadjah Mada, dan beberapa harian ibukota, Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Warta Harian.
Tentangnya ditulis antara lain, “Pribadinya penuh idealisme bahkan optimisme, tetapi dalam hidupnya sering menunjukkan paradoks dengan jalan pemikiranya sendiri” (Warta Harian, 5/8/1970).
Pada pidato pemakaman, teman dekatnya Frans Seda (Menteri Perhubungan RI masa itu) berkata,  “Saya teringat pada Iwan di saat saya mengajarkan Schubert, yaitu simfoni yang tak selesai-selesai, dan inilah yang saya lihat dalam hidupmu berjalan, simfoni dari pahit getir, frustrasi, kontradiksi-kontradiksi. Iwan, kamu selalu intensif dalam hidup ini, intensif dalam marah, dalam hal-hal yang menggiurkan, kepahlawanan yang hebat-hebat, dan di situlah kau Iwan menjadi besar”.
Salah satu cita-cita Iwan, adalah membangun “Institut Pembangunan Masyarakat Desa”, karena menurut dia, 80% dari rakyat Indonesia adalah masyarakat desa.[3]
Dalam kesusastraan Indonesia, ia merupakan seorang pengarang terkenal dan pelopor pembaharuan novel Indonesia berkat karyanya Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), dan Kering(1972).[4] Iwan boleh dikatakan sebagai penulis prosa dengan cara baru yaitu antiplot dan antikarakter.[5]


B.     Latar Belakang Lahirnya Novel Ziarah
Tindak cipta yang mendasari ( Merahnya Merah, 1968, Ziarah, 1969, kering, 1972) Iwan adalah benar-benar (lahir dari proses) tindak sadar “ melepaskan diri dari semua sastra yang melapisi kepengarangan selama ini” (surat, Iwan buat Jasin 7/9/1968), “mencari protagonis tetap merupakan masalah utama” (surat, 21/10/196) dalam novel. Hal ini dapat saja disebut dengan “eksperimen”. Sebab setiap eksperimen, kata iwan, “selalu menandakan pecarian”. Pencarian jalan baru, nilai baru.[6]
Berdasarkan latar belakang kekecewaan, kecemasan, kerinduan, dan penderitaan Iwan selama hidupnya setelah ditinggal mati isterinya corry, terjalinlah fiksi berjudul Ziarah.[7]
C.    Sinopsis Ziarah
Di sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis terkenal di seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dikawini dalam perkawinan yang tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungan ini sang pelukis berniat bunih diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan sang gadis di atas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
Pelukis merasa benar-benar kehilangan terutama saat dia tahu bahwa istrinya mati, pelukis pun langsung pergi ke kantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan itu. Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang ia tahu hanyalah kecintaannya pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang sah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (diangkat menjadi Walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis.
Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan. Sampai penguburan usai, sang pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya, dia melihat wanita tua kecil yang ternyata adalah ibu kandung dari istrinya. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat dilema bagi si anak. Dan sesaat kemudian pelukis memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membuang bunga-bunga tersebut ke laut kemudian membakar gubuknya sampai habis. Beberapa bunga yang masih tersisa ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga itu pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
Setelah itu hidup pelukis tak tentu arah. Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak ke perutnya, memanggil Tuhanya, meneriakan nama istrinya, menangis dan kemudian tertawa keras-keras. Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang meminya dia mengapur tembok perkuburan Kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan Kotapraja itu hampir 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Perkerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota memberkentikan opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan di negeri karena opseter perkuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi intruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan, pada suatu hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatangi dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya opseter ditemukan gantung diri. Perkuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai perkuburan. Penguburan opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu maha guru dari opseter yang kemudian menceritakan riwayat opseter.
Pada akhirnya pelukis pergi ke balai kota untuk melamar menjadi opseter perkuburan agar ia dapat terus-menerus berziarah pada mayat-mayat manusia terutama pada mayat istrinya.





















BAB IV
ANALISIS NOVEL ZIARAH
A.    Unsur Intrinsik Karya
a.       Tema : kegelisahan manusia setelah kehilangan istrinya karena kematian.
“Begitu malam jatuh, perutnya dituangkan arak penuh-penuh, memanggil Tuhan keras-keras, kemudian meneriakan nama istrinya keras-keras, menangis keras-keras, untuk pada akhirnya tertawa keras-keras.” (Ziarah 2001:1)
b.      Tokoh dan Penokohan :
Ø Tokoh kita/pelukis/pengapur
Pelukis adalah manusia bebas, tidak suka dengan aturan, hidupnya mengikuti alam semesta. Sebelum istrinya meninggal ia adalah pelukis berbakat yang hidupnya sangat bahagia bersama istrinya yang dinikahi dengan cara tidak lazim, karya-karyanya dikagumi orang-orang dari segala penjuru negeri.
“Dia dulu hanya pelukis, titik. Gagasan seni yang muluk-muluk, dia tak punya. Seluruhnya diserahkannya kepada pergeseran  dirinya dengan alam semesta.”(Ziarah 2001:67)
Tetapi, setelah istrinya meninggal ia berubah menjadi pemabuk dan bertingkah layaknya orang gila yang suka menagis, tertawa, dan berteriak memangil nama istrinya.
“Begitu malam jatuh, perutnya dituangnya arak penuh-penuh, memanggil Tuhan keras-keras, kemudian meneriakan nama istrinya keras-keras. Tawa keras-keras ini menjadi isyarat bagi orang-orang yang menuntunnya pulang ke satu kamar kecil, di satu rumah kecil, di pinggir kota kecil.”(Ziarah 2001:1)
Setelah beralih profesi menjadi seorang pengapur ia adalah orang yang rajin, menyenangi pekerjaannya. Namun sangat tidak suka pekerjaan yang berkaitan dengan kuburan.
“Dan oleh sebab dia memang tenaga yang sungguh-sungguh, artinya dalam batas-batas paling banyak lima jam berturut-turut sehari, mereka suka sekali mengunakan tenaganya. Kerja apa saja diterimanya. Mencuci piring di kedai, menjaga orok di rumah yang orang tuanya perlu berpergian, membersihkan pekarangan rumah, menjadi kacung bola tenis, dan seterusnya. Tapi bila ditanyakan kepadanya jenis kerja mana yang paling suka dilakukannya, dengan mata bersinar-sinar dia akan menjawab: mengecat atau mengepur rumah.”(Ziarah 2001:5)
Setelah menjadi pengapur tembok perkuburan sikap dan pikirannya banyak mengalami perubahan dan akhurnya dapat menerima kenyataan bahwa istrinya telah tiada.
“.... Maksud saudara adalah memaksa saya ziarah kekuburan istri saya. Dua perbuatan yang satu sama lainnya berbeda sekali sifatnya. Tapi saudara telah tidak hanya memperkosa logika sampai disini saja. Saudara mengetahui alasan-alasan keberatan saya terhadap ziarah. Yang di dalam tanah ini bukanlah istri saya lagi. Sedikitpun ia tak punya sangkut paut apa-apa dengan saya, dengan orang yang dulu jadi istri saya. Istri saya telah mati kata orang.”(Ziarah 2001:127)
Ø  Opseter
Opseter adalah seorang mahasiswa filsafat yang mengasingkan dirinya dengan bekerja menjadi seorang opseter. Ia adalah putera satu-satunya dari hartawan kaya. Ia adalah mahasiswa yang pintar, cerdas, selalu berfikir secara kritis.
“Walaupun dia sama sekali belum pernah menerima pendidikan teknik ataupun pertukangan, namun berkat kecerdasan otaknya, dan terutama berkat kebiasaan berfikir secara berdisiplin dan kritis selama sekian tahun mengikuti kuliah-kuliah filsafat, ditambah jiwa artistiknya dan daya fantasinya yang sanngat potensial, maka seluruh kejuruan dan ketangkasan yang diharapkan dari seorang opseter pengawas perkuburan segera dapat dimilikinya.”(Ziarah 2001:32)
Ø  Istri Pelukis
Seorang istri yang mau menerima suaminya dengan apa adanya, dari dia lah suaminya (pelukis) banyak belajar.
“Dan laki-laki yang menjadi suaminya kini, adalah hanya sebagian saja dari kenyataan itu. Oleh sebab itu, dia menerimanya tanpa menanyakan kartu jenis darahnya dari palang merah. Dia menerima kepelukisannya.”(Ziarah 2001:97)
Ø  Mahaguru
Mahaguru di sebuah Universitas Ilmu Filsafat. Orang yang bijaksana, karena meskipun dia adalah seorang Mahaguru namun ia masih mau belajar dari muridnya (opseter kedua).
“Sungguh banyak yang telah saya pelajari dari dia. Lebih banyak lagi yang bakal saya terima dari dia, tiap hari saya mengajukan pertanyaan padanya, sekedar untuk memancing pelajaran bagi dirinya sendiri.”(Ziarah 2001:136)
Ø  Ayah Opseter
Ayah sekaligus hartawan yang kaya raya, sangat menyayangi dan peduli terhadap anaknya, serta ingin anaknya mewarisi semua harta kekayaannya,
“... Adakah seorang muda yang tampan seperti dia, kaya raya seperti dia, dan pintar seperti dia, layak menghabiskan tahun-tahunnya di sekitar perkuburan tua itu?”(Ziarah 2001:43)
Ø  Walikota
Tokoh pendendam namun ia menyembunyikan rasa dendamnya, ia tidak menyukai warga kotanya, ia menjadi walikota karena ingin menuntaskan manusia-manusia kerdil dekil, yang selama ini tak sedikitpun mendapat penghargaan.
“Ia menerima pemilihan dan pengangkatannya sebagai walikota dulu hanya untuk sekedar menggunakan kedudukannya sebagai kesempatan sebaiknya untuk pada suatu saat nanti membalaskan dendamnya pada mereka, pada manusia-manusia dari jenis mereka, kerdil, dekil, pandir, bernaluri makan dan pakaian saja tak lebih.”(Ziarah 2001:19)
Ø  Wakil Walikota
Seorang wakil yang tidak egois, selalu mengalah, dan bertanggung jawab.
“Selamat! Saudara saya doakan jadi walikota seumur hidup. Ah! Saudara manusia berbahagia.”(Ziarah 2001:85)
Ø  Kepala Negara
Pemimpin yang bijaksana dan berwawasan filsafat.
“Pada suatu hari, kepala negara memiliki pesawat terbang pribadinya dan terbang ke kota kecil tempat tinggal opseter perkuburan muda yang telah menjadi biang keladi dari seluruh heboh dan malapetaka yang menimpa negeri yang sedang dikepalainya.”(Ziarah 2001:37)
Ø  Perdana Mentri
Perdana mentri yang memiliki sifat sentimentalitas dan tidak suka terhadap segala sesuatu yang berbau filsafat.
“Dalam pidato pengangkatannya sebagai kepala negara yang baru, beliau meminta kepada perdana menteri baru yang masih bakal diangkat lagi, agar nanti sudi mencantumkan sebagai program kerjanya, diantaranya membatasi arti dan pengaruh Shakespeare dan pengarang-pengarang lainnya hanya sampai bidang-bidang kesenian dan kebudayaan saja.”(Ziarah 2001:40)
Ø  Ibu Hipotesis
Ibu dari istri pelukis yang telah lama meninggalkannya di panti asuhan sejak ia masih kecil. Ia adalah korban perkosaan oleh serdadu-serdadu pada saat perang.
“Jadi wanita ini rupanya ingin berkata, bahwa anak hipotesisnya itu adalah seorang perempuan, dan bahwa saya... . sebagai menantu hipotesisnya, tentulah menurut teorinya yang hipotesis itu kawin dengan anak hipotesisnya itu.”(Ziarah 2001:119)
Ø  Brigadir polisi
Bersifat baik hati dan pengertian, tidak mengambil keputusan semata-mata karena hukum dan Undang-undang, melainkan karena sisi kemanusiaan.
“... . kebahagiaan yang mereka nikmati kini hendaklah sepenuhnya dan seutuhnya dapat mereka nikmati. Ah, persetan dengan undang-undang dengan hukum, terlebih dengan hukuman! Katanya, dan ia bergegas pulang ke rumahnya.”(Ziarah 2001:76)
c.       Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga. Narator (pencerita) tidak terlibat langsung dalam peristiwa.
“Tokoh kita tak suka pada opseter ini, sebagaimana dia tak menyukai siapa saja yang lapang kerjanya sedikit banyak ada hubungannya dengan orang mati.”(Ziarah 2001:6)

d.      Latar
Ø  Tempat
Perkuburan : adalah tempat bekas pelukis bekerja sebagai pengapur dan opseter menjalankan tugasnya mengurusi perkuburan.
“Sudah tiga hari berturut-turut dia mengapur tembok luar perkuburan Kotapraja.” (Ziarah 2001:11)
Rumah dinas opseter : tempat tinggal opseter.
“Tiga hari pula lamanya sang opseter terus-menerus mengintip dari celah-celah pintu dan jendela rumah dinasnya di komplek perkuburan itu.”(Ziarah 2001:11)
Hotel : tempat tinggal pelukis setelah meninggalkan rumahnya setelah diusir oleh pemilik kontrakan, ia kebingungan dengan banyaknya uang yang ia peroleh maka ia tinggal di hotel.
            “Dan dia pun keluar saat itu juga. Uangnya disuruh angkutnya dengan cikar ke hotel. Mulai hari itu, dia diam di hotel-hotel dan di losmen-losmen. Karena ia punya uang banyak sekali, dia dapat menyewa kamar terbaik.” (Ziarah 2001:69-70)
Tepi Pantai : tempat pelukis dan istrinya tinggal selama diasingkan oleh warga kota.
“Letih sekali mereka berdua akhirnya tiba di pantai. Di situ tak akan ada yang menggubris mereka. Pelukis segera mendirikan semacam gubuk rumbia yang diempaskan ombak-ombak ke situ.” (Ziarah 2001:77)
Stodio Lukis : tempat pelukis tinggal sekaligus tempat ia menempatkan lukisan-lukisannya.
“lagi pula, di manakah rumah tiap pelukis? Tentu di sanggarnya. Apa dan dimanakah sang pelukis? Tentu dirumahnya.” (Ziarah 2001:70)
e.       Alur
Alur yang digunakan pengarang pada novel Ziarah adalah sorot balik.
1.              Tahap pengenalan adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita rekaan atau drama yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita.[8] Dalam Ziarah tahap pengenalan digambarkan pada saat pengenalan tokoh pelukis dan opseter serta kebiasaan da tingkah parah tokoh sesuai dengan pekerjaannya masing-masing.
2.              Konflik atau tikaian adalah ketegangan atau tikaian adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita rekaan tau drama.[9] Konflik dalam Ziarah dimulai dengan pernikahan pelukis dengan istrinya (alur mundur, kembali mengisahkan bagaimana pelukis bertemu dengan istrinya). Pernikahan tersebut membuat pelukis hidup bahagia bersama istri yang dicintainya.
3.              Komplikasi atau rumitan adalah bagian tengah alur cerita rekaan atau drama yang mengembangkan tikaian. Dalam tahap ini, konflik yang terjadi semakin tajam karena berbagai sebab dan kepentingan yang berbeda dari setiap tokoh.[10] Tahap komplikasi yaitu pada peristiwa kematian istri pelukis yang menjadi awal penderitaan pelukis, pada tahap inilah pelukis menderita ditinggalkan istrinya. Ia mulai dikenal sebagai pemabuk, sering berteriak-teriak memanggil istrinya, berteriak menamggil Tuhan, sering menangis dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan dia sangat membenci hal-hal yang berkaitan dengan perkuburan.
4.              Klimaks adalah bagian alur cerita rekaan atau drama yang melukiskan puncak ketegangan, terutama dipandang dari segi tanggapan emosi pembaca. Klimaks merupakan puncak rumitan, yang diikuti oleh krisis atau titik balik.[11] Klimaks terjadi saat opseter menyuruh pelukis mengapur tembok luar perkuburan, kuburan adalah hal yang paling ia benci termasuk opseter, semua hal yang berkaitan dengan perkuburan. Disini alur kembali mundur pada pertemua pelukis dan opseter. Pelukis seolah dihantam badai mendengar tawaran tersebut namun akhirnya dengan negosiasi tawaran tersebut diterima dsn pelukis beralih profesi menjadi pengapur tembok perkuburan.
5.              Selesaiaan dalam tahap ini semua masalah dapat diuraikan, kesalahpahaman dijelaskan; rahasia dibuka[12]. Tahap selesaiaan adalah saat Maha Guru menceritakan riwayat hidup opseter dab akhirnya pelukis atau bekas pengapur itu melamar pekerjaan menjadi opseter perkuburan.
f.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan Iwan Simatupang pada Ziarah banyak menggunakan ungkapan-ungkapan dan majas-majas. Selain itu banyak terdapat istilah-istilah filsafat di dalamnya.
Majas Personifikasi : “Rasa riang mendaki dalam dirinya.” (Ziarah 2001:2)
“Oleh Praktek-praktek menjilat atasannya dan menindas bawahannya.”(Ziarah 2001:20)
“... Mereka terbang ke pintu gerbang.”(Ziarah 2001:28)
Majas Hiperbola : “Tuan adalah nabi seni lukis masa datang.”(Ziarah 2001:69)
Istilah Filsafat : “... kebenaran dari jenis yang subtil, yakni yang memperhitungkan apa yang disebut nuans. Ya! ... ....(Ziarah 2001:17)
g.      Amanat
Amanat yang terdapat pada novel ini bahwa kematian tidak perlu ditakuti, sebab kematian adalah abadi. Pastilah itu yang terbaik.
Sediakanlah tempat yang layak untuk orang-orang yang sudah mati adar ada tempat untuk dikunjungi dan dikenang, karena sebagai manusia puncak tertinggi dari kehidupan adalah kematian.

B.     Psikologi Tokoh Bekas Pelukis (Tokoh Kita) Dalam Novel Ziarah
Karya sastra dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi karena antara sastra dengan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional. Bersifat tak langsung, artinya hubungan itu ada karena baik sastra maupun psikologi memiliki tempat berangkat yang sama, yakni. kejiwaan manusia. Pengarang dan psikolog sama-sama manusia biasa. Mereka mampu menangkap keadaan kejiwaan manusia secara mendalam. Hasil penangkapannya itu setelah mengalami proses pengolahan diungkapkan dalam bentuk sebuah karya. Perbedaannya adalah sang pengarang mengemukakannya dalam karya sastra, sedangkan psikolog, sesuai dengan keahliannya, ia mengemukakan dalam bentuk formulasi teori-teori psikologi. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional, yakni sama-sama berguna untuk sarana mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaannya adalah bahwa gejala kejiwaan yang terdapat dalam sastra adalah gejala kejiwaan dari manusia-manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia riil (Aminuddin, 1990: 93 ).
Dalam Ziarah kita dapat melihat motif-motif  yang menyebabkan mengapa seorang menjadi optimis? Mengapa seorang menjadi rindu? Mengapa seorang menjadi kecewa? Dan mengapa seseorang menjadi sunyi?
Tokoh kita begitu optimis melukis dan egonya sebagai pelikis. Tetapi semangatnya luntur ketika dia mendapatkan uang banyak dari hasil penjualan lukisannya. Dia bingung untuk menghabiskan uangnya, ia memilih menghabiskan uangnya dengan bermain judi. Namun, tokoh kita selalu menang sehingga uangnya semakin banyak.
”Dia bingung! Belum pernah uang sebanyak itu disentuhnya. Karena bingungnya dia pada satu hari mempertaruhkan semua uangnya itu di suatu pertandingan bola internasional di kotanya. Stand terakhir adalah 13-0 dan – dia menang!” (Ziarah 2001:1)
Hidupnya berubah ketika dia menimpa seorang gadis saat tokoh kita mencoba bunuh diri lompat dari jendela kamar hotelnya, dia jatuh tepat diatas tubuh gadis itu dan entah bagaimana caranya dia menikah dengan gadis itu. Perjalanan hidup tokoh kita yang bahagia berakhir ketika isterinya meninggal.
Tokoh kita dalam Ziarah mengalami kecemasan dari segala problematik dirinya terhadap kematian istri yang dicintainya. Dengan kesetiaannya dia menantang kepahitan hidup dengan tabah, karena adanya secercah harapan untuk bisa bertemu entah dimana dan kapan.
“Juga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu isterinya disalah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang isterinya telah mati entah berapa lama.” (Ziarah 2001:1)
Pertemuan itu bisa saja terjadi di alam roh. Karena di dunia nyata tak mungkin sesuatu terjadi secara abadi sifatnya. Dan pada saat menunggu saat-saat bertemu dengan apa yang diharapkan, segala asesiasi bebas terjadi pada batin sang tokoh kita.[13]
Tokoh kita dalam kecemasan yang luar biasa. Seakan hidupnya tak lagi punya harapan. Kita hidup berdasarkan harapan, ketika harapan hidup punah, manusia resah dan cemas. Bahkan bisa jadi putus asa dan gila. Maut tak bisa dibayangkan. Ketika istri tercinta kita mati, maka maut seperti datang kepada kita tanpa basa-basi dan tak bisa dibayangkan.
“Rasanya seperti ini jadi alasan tiap hari baginya untuk hidup. Paginya dia selalu gembira, sampai saatnya dia bertemu salah satu tikungan, melaluinya tanpa bertemu isterinya. Kekosongan sesudah tikungan ini membuat petang-petangnya tiba terlalu cepat.” (Ziarah 2001:1)
Novel Ziarah Iwan dibuka dengan kematian sang istri tercinta tokoh kita, di mana tokoh kita tampak linglung. Tokoh kita seperti mengalami keputus asaan yang absolut, dia sering melontarkan kata-kata yang sering tak beraturan dan menerabas tanda baca melaui gaya fantasi yang kekanak-kanakan. Walau sejak kematian istrinya, ada alasan baginya tiap siang hari untuk terus hidup. Namun ketika malam tiba, ia mabuk dan nyaris berada pada ambang kegilaan.
”Begitu malam jatuh, perutnya dituangkan arak penuh-penuh, memanggil Tuhan keras-keras, kemudian meneriakan nama isterinya keras-keras, menangis keras-keras ... ....” (Ziarah 2001:1)
Tokoh kita pada awal kehidupannya, ia seorang pelukis. Setelah kematian isterinya ia  menjadi pengapur. Tokoh kita dalah kehidupannya selalu menjauhkan diri dari masyarakat, memilih mengasingkan diri hidup di tepi pantai, di tengah alam bebas, jauh dari masyarakat, tetapi hidupnya sanggat dinikmatinya bersama isterinya. Walaupun ia mendapat undangan untuk kembali ke kota agar para wisatawan asing dapat melihat lukisannya, namun ia menolaknya.
“Keadaannya yang seperti ini adalah sendiri lukisan terbaik yang dapat diperlihatkannya kepada siapapun, termasuk pada tamu-tamu negara terhormat itu.” (Ziarah 2001:85)
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa lukisan tokoh kita bukan hanya gambaran hidup melainkan hidup itu sendiri. Tokoh kita merasa diamati oleh ribuan pasang mata bersama isterinya, seakan-akan mereka adalah lukisan kebahagiaan. Ketika tokoh kita menjadi pelukis, dilukisnya kehidupan manusia, yang digambarkan dengan warna-warna beragam dalam lukisannya. Sedangkan pekerjaan yang dijalankan tokoh kita setelah kematian isterinya berubah begitu saja, dia menerima segala pekerjaan mencuci piring di restoran, menjadi tukang kebun, memungut bola di lapangan tenis, dan lain-lain. Namun walaupun demikian ada pekerjaan yang paling disukainya yaitu mengapur atau mencat, dan pekerjaan yang teramat dia benci adalah menggali lobang kuburan. Tokoh kita seakan tidak bisa menerima kematian istretinya, apapun yang berhubungan dengan kematian ia sangat membencinya.
“Kerjaan apa saja diterimanya. Mencuci piring di kedai, menjaga orok di rumah yang orang tuanya perlu berpergian, membersihkan pekarangan rumah, menjadi kacung bola tenis dan seterusnya. Tapi, bila dianyakan pada  jenis kerjaan mana yang paling suka dilakukannya, maka denag mata bersinar-sinar dia akan menjawab: mencat atau mengapur rumah ... ... tapi, ketika pada satu hari dia diminta ikut menggali lobang kuburan, matanya terbelalak lebar-lebar. Kemudian lari kencang-kencang.” (Ziarah 2001:6)
Sampai akhirnya tokoh kita meruntuhkan egonya terhadap ketakutannya akan kesepian, kehilangan, keputus asaan setelah kematian isterinya dia menyadari bahwa dia sangat mencintai isterinya, walupun selama mereka menikah dia baru sadar dia tidak pernah tau nama isteri yang sangat dicintainya itu. Tokoh kita memilih menjadi seorang opseter perkuburan untuk tetap dekat dengan orang-orang yang dicintainya.  









SIMPULAN
Ziarah merupakan novel rumit dan mengandung banyak nilai filsafat yang sulit dipahami. Namun dibalik segala kerumitannya novel Ziarah memiliki sisi lain yang menarik, yaitu antara lain melalui penggambaran tokoh yang dikenal tanpa nama, melainkan dikenal dengan nama-nama profesi tokoh tersebut seperti, bekas pelukis, opseter, walikota, dan sebagainya. Tema pada novel Ziarah adalah kegelisahan. Manusia dihadapkan pada sebuah kematian, dihadapkan pada batas akhir hidup, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang harus dijalani. Ziarah banyak majas-majas terutama majas personifikasi dan Hiperbola serta terdapat juga istilah-istilah berbau filsafat.
Ziarah  memiliki Tokoh utama yang disebut tokoh kita, memiliki keahlian dalam melukis, namun semangatnya melukis luntur saat dia mendapatkan uang banyak dari lukisannya. Dia bingung untuk menghabiskan uangnya. Saat dia mencoba bunuh diri karena bosan dengan kehidupannya, saat itu juga dia bertemu dengan seorang gadis yang menjadi istrinya. Perjalanan hidupnya yang bahagia berakhir ketika istrinya meninggal. Dia kesepian. Dia setiap hari mencari tikungan dan berharap bertemu isterinya. Namun hidupnya berubah suatu ketika tokoh kita berhasil mengatasi egonya, berani menerima bahwa istrinya telah meninggal. Tokoh kita memutuskan untuk menjadi seorang opseter perkuburan agar dia bisa terus dekat dengan orang-orang yang dicintainya.












Daftar Pustaka
K.S, Yudiono. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo,2007.
Saraswati, Ekarini, Struktur Psikis Tokoh Utama Ziarah Karya Iwan Simatupang Dan Novel Saman Karya Ayu Utamu: Sebuah Analisis Komparatif Dengan Pendekatan Psikoanalisis Sitgmund Freud .Jurnal Artikulasi Vol. 12 No. 2 Agustus 2011. Diakses tanggal 12 April 2013
Simatupang, Iwan. Ziarah Sebuah Novel. Jakarta: Djambatan, 2001.
Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta:Grasindo, 2008.
Sumarjo, Yakob. Pelopor Fiksi Non-Konvensional Dua Novel Iwan Simatupang, Pikiran Rakyat, edisi Selasa 20 Juli 1982,h.7 kolom 1.
Suyitno, Sastra Tata Nilai Dan Eksegensis. Yogyakarta: PT. Hanindita,1986.
Toda, Dami N. Novel Baru Iwan Simatupang.  Jakarta: Pustaka Jaya,1984.



[1] Dami N. Toda, Novel Baru Iwan Simatupang (Jakarta: Pustaka Jaya,1984),h.18.
[2] Ekarini Saraswati, Struktur Psikis Tokoh Utama Ziarah Karya Iwan Simatupang Dan Novel Saman Karya Ayu Utamu: Sebuah Analisis Komparatif Dengan Pendekatan Psikoanalisis Sitgmund Freud (Jurnal Artikulasi Vol. 12 No. 2 Agustus 2011). Diakses tanggal 12 April 2013.
[3] Dami N. Toda, Novel Baru Iwan Simatupang (Jakarta: Pustaka Jaya,1984),h.97-98.
[4] Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia(Jakarta: Grasindo,2007),h.137.
[5] Yakob Sumarjo, Pelopor Fiksi Non-Konvensional Dua Novel Iwan Simatupang, Pikiran Rakyat, edisi Selasa 20 Juli 1982,h.7 kolom 1.
[6] Iwan Simatupang, serba-serbi Seni Eksperimentil (Mimbar Indonesia, X/51, 1958), h. 19-20 dalam Dami N. Toda, Novel Baru Iwan Simatupang (Jakarta: Pustaka Jaya,1984),h. 11.
[7] DRS. Suyitno, Sastra Tata Nilai Dan Eksegensis (Yogyakarta: PT. Hanindita,1986),h.88.
[8] Aminuddin dalam Dr, Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra(Jakarta:Grasindo, 2008),h.159.
[9] Ibid
[10] Aminuddin dalam Dr, Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra(Jakarta:Grasindo, 2008),h.160
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] DRS. Suyitno, Sastra Tata Nilai Dan Eksegensis (Yogyakarta: PT. Hanindita,1986),h.88

Tidak ada komentar:

Posting Komentar