Pengikut

Rabu, 07 November 2012

Cerpen



Mawar Putih
Oleh Holida Hoirunisa
Mawar Putih  di pojok kamar Sevil masih tertata rapih pada vasnya, sudah satu bulan berlalu mawar itu terpajang di sana, warnanya tak lagi putih, sekarang warnanya sama dengan warna vas yang ditempatinya yaitu coklat. Sevil tetap membiarkan mawar itu menghiasi pojok kamarnya di atas meja belajar miliknya, kelihatannya memang tak lagi indah, mawar putih yang sudah tak putih tapi tetap saja Sevil menyebutnya putih.
“Mawar di kamar mu sepertinya minta diganti vi” ibunya berkata, sambil sibuk mencari-cari sesuatu di kamar Sevil.
“Belum saatnya di ganti bu, aku masih suka mawar itu” ujarnya sambil menatap riuh mawar itu dengan sedikit senyum di wajahnya.
Ibunya tersenyum, dia mengerti bahkan paham anak perempuannya itu, mawar itu pemberian Fadil tunangan Sevil, mawar yang diberikan saat Fadil melamar anaknya.
***
September, aku bertemu dengannya, aku mengenalnya melalui perempuan yang cukup dekat denganku, dia mengatakan ada seseorang yang menungguku sampai aku benar-benar lepas dari lelakiku. Memang aku sudah mempunyai lelaki lain sebelum aku bertemu Fadil. Ojos yang mengisi hari-hariku hampir satu tahun ini, hubungan kami memang baik-baik saja. Ojos memang cukup membuatku nyaman tapi ada sikap Ojos yang kurang kusukai dua bulan terakhir ini. Dia mulai sibuk dengan kesenangannya, kami mulai jarang berkomunikasi bahkan saat Ojos pergi mendaki gunung bersama teman kampusnya dia pernah tidak menghubungiku hampir dua minggu, entah tidak ada sinyal atau apa, tapi kurasa ini keterlaluan.
 “Tidak bisakah dia menelpon atau sekedar sms untuk memberi tahu keadaannya, keberadaannya, baik-baikkah, kapan kembali?” gerutuku dalam hati, dengan tangan yang sibuk memutar-mutar telpon seluler  di meja.

Ojos memang bukan tipe laki-laki yang perhatian,  Tapi dalam takaran cuek seorang Ojos dua bulan terakhir ini sudah melebihi ambang batas. Bukan seperti Ojos yang ku kenal dulu.
Aku mulai terbiasa dengan sikap Ojos, aku tidak mempermasalahkan lagi dia tidak menghubungiku, tidak menghabiskan waktu libur bersama. Aku mulai terbiasa tanpa Ojos. Hanya memberi kabar seperlunya, sampai suatu hari aku benar-benar membutuhkan Ojos untuk menjemputku di kampus, tapi Ojos tidak datang, kecewa memang tapi, percuma! aku tau Ojos. aku bingung bagaimana caranya untuk sampai di rumah, sampai perempuan itu menyuruh Fadil untuk mengantarku, sedikit lega dalam hati, setidaknya aku bisa sampai di rumah dengan aman.

Aku dan Fadil mulai dekat, seperti dua sahabat yang sudah berteman cukup lama, Fadil sosok teman yang cukup membuatku nyaman untuk ukuran orang yang baru ku kenal seminggu terakhir ini. Ojos tahu, kupikir dia akan marah karena bisa dibilang waktu ku lebih banyak dihabiskan bersama Fadil dibanding dengannya, tapi ternyata tidak. Karena aku dan Fadil berada di kampus yang sama dan Ojos memang berbeda kampus denganku. Mungkin itu pengertian dari Ojos untuk ku dan nyatanya sampai sekarang kami masih baik-baik saja. Makin hari aku mulai merasa nyaman dengan Fadil, kami bertemu, bicara dan terus bicara, banyak hal yang kami bicarakan bersama, dari mulai guyonan, tugas, bahkan tentang aku dan Ojos. aku mulai merasa hubunganku dan Ojos mulai jauh bahkan seperti berjarak, aku berfikir ada atau tidaknya aku dalam kehidupan Ojos sepertinya sama saja, dia akan baik-baik saja tanpa ku, begitupun sebaliknya. Aku memutuskan hubungan ku dengan Ojos, bukan karena Fadil tapi memang mungkin sudah saatnya merelakan Ojos pergi dengan kebahagiaannya. Seseorang pernah berpesan “jangan memutuskan sesuatu karena sesuatu” dan kupikir aku melakukan ini bukan karena Fadil.

Ojos bilang dia takut membuatku sakit, dia tidak akan memutuskan ku sebelum aku yang mengambil keputusan itu, aku mulai sadar maksud dari sikap Ojos selama ini, Ojos ternyata laki-laki yang begitu perhatian, kami berpisah untuk tak saling membenci.
“Kita berteman baik ya vi” Ojos berkata sambil mengelus lembut kepalaku,”kalo kamu perlu bantuan jangan sungkan untuk bilang ya” katanya sebelum melepaskan pandangannya.
Aku hanya tersenyum, entah kenapa tiba-tiba aku merasa mandul kata-kata, bukan sesuatu yang mudah dipahami bahkan lebih sulit untuk dimengerti.

Hari baru tanpa Ojos, aku yakin bisa berlalu tanpa sendu, rasanya memang sama saja, toh aku sudah terbiasa tanpa kabar dari Ojos dulu, hanya sekarang Ojos bukan siapa-siapaku lagi itu yang membedakan. Seperti biasa aku menghabiskan waktu di kampus bersama Fadil, kami bertemu, bicara dan terus bicara, sampai aku lupa dengan perihku, kita bicara dan terus bicara bukan lagi tentang siapa atau apa, tapi tentang kita.

Kita lupa akan setiap dara dan lelaki yang pernah ada, Fadil berhasil meluluhkan ku. Satu bulan sepertinya cukup untuk saling meyakinkan. kita bicara dan terus bicara, tentang rasa tentang kita. Fadil begitu memperhatikanku, aku seperti menemukan oasis di gurun pasir, perhatian yang tak kudapat dari Ojos dulu aku mendapatnya dari Fadil. Dia selalu mengantar ataupun menjemputku setiap harinya, telpon dan sms pun tidak pernah absen. Dia juga begitu akrab dengan ibu, aku yakin akannya.Kini bukan lagi Sevil dan Ojos, tapi kini Sevil dan Fadil. 

Minggu pagi Fadil mengajak ku pergi dia bilang mau membawaku ke suatu tempat, semua serba mendadak, aku belum minta izin pada ibu, tapi ternyata dia sudah mempersiapkan itu seminggu yang lalu, mulai dari tempat, sampai izin dari ibu. Aku pikir aku tidak akan boleh pergi, karena ibu punya aturan kalau aku mau pergi atau ada acara apapun harus izin jauh-jauh hari. Aku bingung ketika aku bilang ingin pergi ibu mengizinkan. Ternyata Fadil sudah merencanakan semuanya.

Seikat mawar putih dan sebuah kotak disodorkan ke depanku. Apa maksudnya? Apa ini lamaran? Apa ini? Apa? Apa? Tidak terlalu cepatkah? Tapi ini memang lamaran, aku kaku, aku terharu. Fadil membuatku seperti bermimpi saat itu, ternyata apa yang selama ini aku bayangkan saat menjadi gadis kecil ibu, bahwa ketika dewasa nanti aku ada laki-laki yang melamarku seperti dalam dongeng sebelum tidur yang selalu ibu ceritakan. Seorang pangerang berkuda putih datang melamar putri dan mereka hidup bahagia diakhir ceritanya. Dan sekarang aku mengalaminya, Fadil ku melamar ku dan membawakan ku seikat mawar putih. Aku bahagia, ku taruh mawar itu dalam vas berwarna coklat di pojok kamarku, tepat di samping komputer di atas meja belajarku. Seperti sebuah suplemen semangat saat aku mulai bosan bahkan lelah mengerjakan tugas di depan komputer. 
***
Enam bulan sudah Fadil mengisi hari-hariku, tapi kali ini dia tidak seperti Fadilku, diam dan hanya diam, kenapa? Kenapa tak bicara? Ada apa? Sampai suara memecahkan keheningan “Aku tak yakin dengan rasaku, aku takut  melukaimu lebih dalam” katanya sambil menatapku dalam.
Sepetinya oasis di padang pasir ku hanya sebuah fatamorgana. Lagi-lagi ini sebuah kata yang sulit untuk dipahami bahkan lebih sulit untuk dimengerti, aku tak mau dengar, tak kusadari tangisku meluap bahkan lebih dahsyat. Aku pikir Fadil baik.
“Untuk apa semua ini?” hingga akhirnya perkataan itu muncul.
Untuk sekarang aku bingung untuk apa semua ini, untuk apa Fadil datang saat aku masih bersama Ojos, sampai ia membawaku sampai sejauh ini.
“Rasanya kita bicara untuk hal yang sulit untuk kuterima” kata ku.
“Aku masih teringat akan seorang dara yang masih sisakan luka” sambil mencoba menenangkan,memegang tanganku dengan erat.
Banyak hal yang harusnya kita bicarakan, kita pikirkan, bukan sekedar rintihan hati dari seorang hawa. Kita tak lagi bicara. Tentang apapun bahkan tentang kita.
Aku masih di sini, masih menunggu bayangmu hadir, hadiah terindah dari rintihan yang tak terucap. Sampai kita kembali bertemu dan bicara, bertemu dan dipertemukan pada saat yang tepat. Sudah hampir beberapa waktu kau tak bersamaku.
Singkat namun berperan. Aku masih memperhatikanmu sama seperti ketika itu. Aku mungkin bukan perempuan mu lagi, bukan siapa-siapa lagi untukmu. Tapi aku pernah jadi perempuan mu, pernah jadi sesiapa untukmu.
Sampai beberapa waktu berlalu, kau menegurku. Rasanya seperti obat parau kertika itu.
Fadil mengatakan “seberkas lukamu itulah aku”, ia mengatakan langkahnya terlalu jauh dan ini bukan sebuah permainan, sedang dirinya masih bergulat dengan dara di masa lalunya.
Wajahku mirip dengan dara itu, bukan aku yang mengisi hari-harinya, lekas berlalu pintanya.
Aku berdusta ketika, aku mengatakan aku tak lagi mencintaimu, terlalu munafik, mungkin na’if.
Tapi hati tetap kukuh pada rasanya, entah sampai kapan menunggu ikhlas yang tak kunjung datang.
Hari baru Sevil tanpa Fadil, Sama seperti tanpa Ojos, ia ingin berlalu tanpa sendu. Siap atau tidak, suka atau tidak dia harus menjalaninya. Karena bukan tujuan yang terpenting tapi, prosesnya. Banyak hal yang bisa dia lakukan sekarang, itu jauh lebih berarti dibanding mengingat masa lalu yang hanya sisakan luka.
Seikat mawar putih, masih tersimpan apik di dalam vasnya, sampai pada waktunya nanti Sevil merelakannya karena memang sudah saatnya untuk menggatinya dengan mawar yang baru.
27 September 2012



Minggu, 04 November 2012

Review Layar Terkembang




Review Layar Terkembang 

Sultan Takdir Alisjahbana ingin mendobrak paradigma yang sudah tertanam pada bangsa kita, khususnya kaum laki-laki yang selalu memperlakukan wanita tidak bedanya benda mati yang bisa diotak-atik semaunya. STA menggambarkanya melalui karakter Tokoh Tuti yang menggambarkan sikap wanita modern yang menginginkan wanita sejajar dengan pria bahkan tidak menggantungkan segalanya pada pria.
Menurut asumsi saya STA dalam novel Layar Terkembang lebih membandingkan tipe wanita modern dan wanita dulu. Dilihat dari tokoh-tokohnya yaitu Tuti yang merupakan wanita yang digambarkan sebagai wanita modern yang lebih mengutamakan logika daripada perasaannya. Sedang Maria tokoh yang digambarkan oleh STA sebagai tipe wanita dulu yang lebih mengutamakan perasaan dibanding logikannya dan juga tergantung dengan laki-laki (Yusuf).
Diakhir cerita STA mematikan salah satu tokoh yaitu Maria, ini merupakan ciri khas dari poejanga Baroe. Meninggalnya Maria menurut saya STA ingin mengungkapkan bahwa tradisionalitas akan tergantikan oleh modernitas begitu selanjutnya. Karena STA lebih pro ke barat dan sastrawan yang menganut modernitas.
Dua kakak beradik, Maria dan Tuti masing-masing mempunyai perangai yang berbeda. Maria lima tahun lebih muda dari Tuti kakanya yang berusia dua puluh lima tahun. Maria riang prilakunya, manja dan seseorang yang mudah kagum, yang  mudah memuji dan memuja. Sebaliknya Tuti bukan seorang yang mudah kagum, yang melihat segala sesuatunya dengan menimbang dan menimbang dengan keyakinannya atau pemukirannya.
Pertemuan mereka dengan Yusuf dalam sebuah acara, memulai kedekatan Maria dengan Yusuf, Yusuf tertarik dengan Maria. Sifatnya yang manja membuat membuat Yusuf tertarik kepadanya. Seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Melihat tingkah laku adiknya yang seperti terhipnotis oleh cinta kepada Yusuf, Tuti menegur Maria, bahwa cinta membuat perempuan tak lebih dari mainan laki-laki. Maria tak suka dengan nasihat yang diberikan kakaknya. Maria mengatakan bahwa cinta Tuti seperti perdagangan, baik dan buruk ditimbang sampai semiligram, tidak ingin rugi sedikitpun. Wajar saja pertunangannya dengan Hambali putus.
Pertengkaran dengan Maria membuat pergejolakan batin Untuk Tuti. Tuti meresa letih lahir dan batin, entah mengapa hatinya terasa kosong. Perkataan Maria begitu pedas hingga terus terngiang dipikirannya. Dia tidak bisa memusatkan pikirannya untuk menulis laporan untuk Kongres Putri Sedar. Benarkah yang dikatakan Maria? Apakah dia terlalu perhitungan terhadap cinta sehingga Hambali memutuskan pertunanganya. Menurutnya percintaan harus didasari atas saling menghargai, perempuan tidak harus mengikat hati laki-laki oleh karena penyerahannya. Perempuan harus tahu bahwa haknya terlanggar dan harus dihormati juga oleh laki-laki. Agar perempuan senantiasa tidak menjadi permainan laki-laki.
Percintaan Maria dan Yusuf terjalin manis. Tuti makin bergelut dengan dirinya sendiri. Jika Yusuf datang menemui Maria di malam minggu Tuti mengintip dua pasang kekasih itu dari dalam kamarnya dengan kekosongan hati yang makin dia rasakannya. Usianya sudah duapuluh tujuh tahun, usia yang sudah cukup tua untuk ukuran perempuan. Batinya cukup bergejolak akan hal itu, meski Supomo menyatakan ingin menjadikannya istri. Tuti senang akan hal itu, tapi dia bergelut dengan dirinya sendiri, apakah dia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai hanya karena alasan usia yang semakin bertambah. Atau tetap pada prinsipnya, lebih baik tidak menikah dari pada mendapatkan suami yang tidak sepandangan dan sepaham.
Maria jatuh sakit ketika hubungannya dengan Yusuf makin mendalam. Maria mengidap TBC. Yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit yang cukup jauh dari rumahnya, tidak bisa setiap hari kekasih, saudaran, dan orang tua menemuinya. Ketika liburan Yusuf dan Tuti tiap hari pergi bersama menjenguknya. Dalam hati Yusuf dan Tuti tanpa disadari timbul rasa pengartian masing-masing. Tuti menganggap Yusuf sebagai laki-laki yang sepadan, memiliki perasaan yang lapang dan pemikiran yang menghargai keindahan dan kebenaran. Yusuf memandang Tuti sebagai manusia yang memiliki jiwa perjuangan yang ceria dan tulus, tetapi terdapat bagian yang kosong dan sunyi.
Penyakit Maria tidak dapat ditolong. Pada kunjungan terakhir Yusuf dan Tuti sebelum mereka kembali ke Jakarta Maria berpesan “alangkah bahagianya saya di akhirat nanti kalau saya tahu bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya beberapa hari ini ....”   
Pada akhirnya Yusuf dan Tuti berziarah ke makam Maria menjelang pernikahannya, dipenuhi rasa haru yang berkecambung di dalam hati mereka.