Pengikut

Jumat, 11 Mei 2012

sosok itu

Entah dari mana ku tuliskan dan ku gambarkan semua
Kamu yang sekarang ada dihari-hariku
Di hatiku, di pikirku
Entah akan sia-sia atau berujung bahagia, namun aku menikmati apa yang ku jalani saat ini
Ku mulai gambarkan….
September kita mulai bicara, ku mengenal sosok mu dari perempuan itu perempuan yang cukup dekat ku kenal, kami bicara dan terus bicara akan sosok misterius itu, sosok yang tak kukenal dan tak cukup dekat sebelumnya, tak ada kata yang ku ucapkan saat perempuan itu mengatakan “ Dia menunggumu sampai kau benar-benar lepas darinya”
Yaaaaaaaaaa…
Memang saat itu ada sosok lain yang ku sayang saat itu entah mengapa rasa itu sulit hilang meski tak ku dapatkan manisnya, bukan berarti aku tak bahagia hanya saja terkadang aku merindukan kehangatan itu
Detik, menit, jam, hari, aku mulai mengenal sosok itu kita mulai bicara dan terus bicara
Membicarakan tentang aku dan lelakiku, rasa yang ku punya untuknya belum juga pudar aku masih mencintai lelakiku
Waktu berlalu masih sama aku dan dia masih bicara tetapi sekarang lain kita bicara tentang rasa dan tentang kita
Ku akui aku mulai luluh
Perhatian itu, kehangatan itu membuatku layu bahkan kau
Kau dapat meruntuhkan keangkuhanku
Oktober akhir aku memutuskan menyudahi semua dengan lelakiku bukan karena sosok itu tapi mungkin sudah waktunya merelakan orang yang ku cintai pergi dari sampingku bukan terlalu lelah tapi mungkin dia lebih bahagia meski tak bersamaku
Ku membiarkanya pergi untuk tak saling membenci
Yaaaa ini kemauanku juga kemauannya
Aku tak memutuskan sesuatu karena sesuatu
Aku yakin aku akan baik-baik saja tanpanya mungkin begitupun sebaliknya
Namun kiranya aku mau berlalu tanpa sendu
Hari baruku kehilangan lelakiku
Dengan sendu tak kusadari air mataku jatuh dalam peluh
Namun sosok itu datang dalam hari-hari ku mengisi kekosongan demi kekosongan
Detik, menit, jam, hari aku mulai mengenalnya
Mulai memperhatikannya aku terbiasa, aku hilang, aku terbang, aku terbuai, dan aku mencintainya
Hari demi hari kita bicara, dan terus bicara
Bertemu dan bertemu dan terus bicara  kita semakin dekat, kian erat, lekat, kian sama
Aku bahagia setiap hari kita bicara tentang rasa, tentang kita
Kita lupa akan setiap dara dan lelaki yang pernah ada kita kembali bicara dan terus bicara
Membuatku semakin larut, semakin hanyut dalam dekapmu sungguh aku bahagia
Aku benar-benar lupa dengan perihku
Kita terus bicara bukan untuk apa dan untuk siapa tapi untuk hati kita
Singkaaaaaat…..
Jum’at pagi itu aku menatapmu dengan segala kebingungan
Mengapa tak bicara, mengapa diam, terus diam, kenapa sayang?????
Dan kamu mulai bicara “ aku tak yakin dengan rasaku, aku takut melukaimu lebih dalam”
Aku tak mau dengar
Tak kusadari tangisku meluap bahkan lebih dahsyat
Aku berpikir kamu baik
Untuk sekarang aku bingung untuk apa semua ini?
Rasanya kita bicara untuk hal yang sulit kuterima, terlebih saat kau katakan mengingat seorang dara yang masih sisakan luka
Sepi…..
sendiri….
Aku masih berharap bayangmu datang hadiah terindah dari rintihan yang tak terucap
Sampai pada waktu mempertemukan pada saat yang tepat
Aku masih disini untukmu
Sampai kita kembali bicara
Ingin sekali kukatakan bahwa lukaku adalah kamu
Banyak hal yang seharusnya kita bicarakan dan pikirkan untuk bicara tentang rasa dari seorang hawa yang terluka
Aku mungkin bukan perempuanmu
Bukan siapa-siapa untukmu
Tapi aku pernah jadi perempuanmu
Pernah jadi siapa-siapa untukmu
Sudah hampir beberapa waktu kau tak bersamaku
Kita tak lagi bicara tentang rasa, apakah terendap??
Hingga waktu berlalu akhirnya aku bisa menulis ini untukmu
Sekedar obat rindu akan sosokmu
Singkat memang namun kau cukup berperan
Aku melihat dan memperhatikanmu masih seperti ketika itu
Mungkin munafik bahkan terlalu na’if jika ku katakan aku tak lagi mencintaimu, tapi apakan kau tau aku berdusta untuk menutupi bahwa aku masih mencintaimu
Entah mengapa hati ini masih kukuh dengan rasanya menunggu ikhlas yang belum juga datang…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar