BAB I
PENDAHULUAN
Cerpen, sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Akan
tetapi, berapa ukuran panjang-pendek cerpen memang tidak ada aturannya. Sebagai
sebuah karya fiksi, cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangunan imajinatif yang berdiri
dengan unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting
yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan sebuah cerita yang
utuh. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen, yaitu unsur instrinsik
dan ekstrinsik.
Pada kesempatan kali ini saya akan
menganalisis sebuah cerpen karya Joni
Ariadinata yang berjudul “Jalan Lurus Menuju Mati”, dengan mengunakan pendekatan objektif. Pendekatan
objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya pada
karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada apabila tidak ada karya
sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti (Junus, 1985:2). Pendekatan objektif yaitu pendekatan yang
menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri, pendekatan ini beranggapan karya
sastra sebagai sesuatu yang otonom. Sebagai struktur yang otonom, karya sastra
dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur
pembangunnya. Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus
dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari berbagai unsur yang ada
di luar struktur signifikansinya (Teeuw, 1984 130-131).
BAB II
A. Biografi Joni
Ariadinata
Joni Aridinata, lahir di Majapahit,
Majalengka 23 Juni 1966. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit adalah Kalil Mati (Bentang Budaya, 1999), Kastil
Angin Menderu (Indonesia Tera, 2000), Air Kalidera (Aksara
Indonesia, 2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (DAR Mizan, 2004).
Bersama Taufik Ismail dkk, mengeditori sejumlah buku, antara lain: Horison
Sastra Indonesia 1 (Kitab Puisi), Horison Sastra Indonesia 2 (Kitab Cerpen),
Horison Sastra 3 (Kitab Novel), Horison Sastra 4 ( Kitab Drama), serta Horison
Indonesia 1 dan 2 (Kitab Esei). Buku-buku tersebut, disebarkan untuk menjadi
bacaan di perpustakaan-perpustakaan SMA di seluruh Indonesia.
Tahun 1994 meraih penghargaan Cerpenis
Terbaik Kompas atas karyanya Lampor. Tahun 1997 meraih penghargaan
Cerpenis Terbaik Nasional BSMI atas karyanya Keluarga Murdika. Tahun
1998 mengikuti Writing Program pada Majlis Sastra Asia Tenggara, dan meraih penghargaan Dewan Kesenian
Jakarta atas nominasi karyanya Keluarga Mudrika. Mengikuti pertemuan
sastrawan Malaysia di Johor Baru pada tahun 1999. Kemudian Januari hingga April
2001, mengunjungi Eropa atas undangan Festival Winternachten di Deen
Haag Belanda
Ia menerima Anugerah Pena 2005 atas
kumpulan cerpennya Malaikat Tak Datang Malam Hari. Tahun 2007 kumpulan cerpen
Malaikat Tak Datang Malam Hari kembali meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa.
Hingga kini ia menetap di Yogyakarta, menulis, melukis, sambil membina pondok pesantren
Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta.
Joni Ariadinata dalam proses
kepengrangannya dikenal sebagai penulis yang bereksperimental mencari bentuk
kepenulisannya sendri, sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak, Joni Ariadinata banyak menemukan
corak baru dalam karya-karyanya.
S. Prasetyo Utomo dalam tulisannya yang
berjudul “Generasi Cerpenis Pasca-Seno Gumira Ajidarma” yang dimuat dalam koran Republika, (Minggu, 13
Januari 2002) menyebut nama Joni Ariadinata sebagai salah satu penulis yang memiliki corak
kepengarangan khas, Joni melakukan pembaharuan dalam dunia cerpen. Dia
melakukan dengan mereduksi bahasa. hingga menampakan citra puisi dalm
narasi-narasinya, ia bisa menghadirkan borok, nanah kehidupan realitas yang
sangat runyam ke dalam teks sastra yang penuh simbol, tanda, dan
pemaknaan.
Maman S. Mahayana dalam tulisannya “Potret Manusia Marjinal
dalam Cerpen-Cerpen Joni Ariadinata” Dalam antologi Kali Mati dan
Kastil Angin Menderu ia memperlihatkan potensi kepengarangannya dalam
gaya bahasa, ciri yang menonjol dari kedua antologi ini adalah hancurnya tata bahasa baku bahasa Indonesia. Tata
kalimat dan unsur-unsur sintaksis dibuat berantakan, tetapi justru dengan
begitu imajinasi Joni tampak begitu liar dan terkesan menyimpan sesuatu yang luar
biasa dalam karyanya ini.
B. Sinopsis Cerpen
Jalan Lurus Menuju Mati.
Cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” menceritakan tentang perbandingan
dalam menunaikan ibadah haji jaman dulu dengan jaman sekarang. Masalah
sosial yang terdapat dalam cerpen ini
adalah masalah lingkungan hidup, yaitu lingkungan sosial.
Kakek berlayar ke tanah suci,
mengarungi samudra luas berbulan-bulan dengan sebuah layar. Pada tahun 1932
memasuki minggu kedua
puluh tiga, tiba-tiba pusaran maha-air, menelan ratusan layar dalam sejarah. Entah empat atau
lima tahun umur Soleh ketika Ambu mendekap sambil menangis. Begitu juga dengan
Abah ia berlayar ke tanah suci menyusul kakek yang entah
kapan akan kembali.
Berlayar ke tanah suci merupakan
perjuangan yang sangat berat. Seiring kemajuan zaman, lingkungan sosialpun
semakin berkembang, perjalanan ke tanah suci tidak lagi seberat dulu. Saai ini
kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji telah tersedia.
Wak Sarmun tiba dari Makkah,
kedatangannya disambut barisan rebana, dan azan yang dilantunkan Muazin
Wasih. Kini kampung Jahlun telah memiliki seorang haji lagi setelah Haji Kadhib
yaitu wak Sarmun yang telah berganti nama pada hari ke tujuh menjadi Haji
Majenun. Konon kampung jahlun memiliki dua saf orang-orang yang diakui fasih
oleh haji Khadhib, hingga
mendapat jatah istimewa untuk menempati saf
pertama dan kedua. Orang kampung telah meninggikan derajat orang yang
menunaikan ibadah haji, dan orang tersebut dijadikan imam dalam kehidupan
mereka.
Dan Soleh adalah potret dari
keterperangahan seorang tokoh, betapa waktu telah berlalu begitu cepat,
sepuluh, duapuluh, atau bahkan empat puluh tahun. Tak ada layar yang
menghidupkannya kembali pada ambu. Dan kini Soleh telah begitu tua,
bayangan soleh dan jutaan soleh yang lain menempati kenangan haji Kadhib pada
panjangnya terowongan Mina. Sedangkan Ambu telah lama terkubur, Sedangkan Abah
dan Kakek entah kapan akan kembali. Atau bahkan tidak sama sekali.
C.
Analisis Cerpen Jalan Lurus Menuju
Mati Karya joni Ariadinata
a)
Tema
Tema
adalah ide yang mendasari suatu cerita.
Tema berperanan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan
yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan antara hubungan makna dengan tujuan
pemaparan oleh pengarangnya (Aminuddin.1984:107-108). Tema atau pokok persoalan
cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” sesungguhnya terletak pada persoalan
perbandingan dalam menunaikan ibadah haji pada jaman dulu dan jaman sekarang.
Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan “… Abahmu
akan menyusul kakek ke tanah suci, Abah juga akan hilang seperti kakek, naik di
atas kapal besar, diantar enam gerobak
kerbau, membawa peti - peti sakarah yang besar…
Mungkin sepuluh, dua puluh, atau
bahkan empat puluh tahun. Yang soleh ingat, ketika itu Ambu jadi lebih diam…..
b)
Tokoh, Watak, dan penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban
peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita,
sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh adalah penokohan (Aminudin, 1984:85)
Ditinjau dari peranannya dan keterlibatannya dalam cerita,
tokoh dapat dibedakan atas (a) tokoh
primer (utama), (b) tokoh skunder (tokoh bawahan), (c) tokoh komplementer
(tambahan) (Sujiman, 1988: 17-20; Sukada, 1987: 160; Aminuddin, 1984:
85-87).
Dari cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” tokoh utamanya adalah Abah, Kakek, Soleh, wak
Sarmun, Haji Kadhib. Tokoh bawahannya adalah Ambu, istri wak Sarmun, kepala
kampung. Tokoh tambahannya adalah orang – orang kampung jahlun, muazin wasih.
Dilihat dari perkembangan kepribadian
tokoh, dapat dibedakan atas tokoh dinamis atau tokoh statis.bila dilihat dari
masalah yang dihadapi tokoh dapat dibedakan atas tokoh yang mempunyai karakter
sederhana atau kompleks (Aminuddin, 1984:91-92)
Dalam cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” kita dapat melihat bahwa
tokoh Haji Kadhib dan Wak sarmun memiliki karakter yang kompleks, Haji Kadhib
sesuai namanya Kadhib (bohong), ia memiliki sifat sok tahu, ia cenderung
berkuasa terhadap segala hal, karena gelar haji yang melekat pada dirinya
menimbulkan status sosial dalam
masyarakat. Wak Sarmun yang berganti nama menjadi Haji Majenun, ia seorang haji
yang tidak berilmu.
Sedangkan tokoh Soleh, Abah, Ambu adalah tokoh yang
mempunyai karakter sederhana. Isteri Wak Sarmun menggambarkan seorang isteri penurut,
rajin, pemurah, penyabar. Seperti dalam kutipan “Siapa yang mampu mengatur
peredaran makanan dan minuman yang begini melimpah. Jika bukan isteri solehah,
pemurah, dan penyabar.”
c)
Latar
Latar
adalah tempat umum (general local), waktu kesejarahan (historical time), dan
kebiasaan masyarakat (social circumstances) dalam setiap episode atau bagian –
bagian tempat (Abrams,1981:173).
Ø Latar
waktu: Cerpen ini berlangsung sekitar tahun 1932. Seperti yang ada
dalam kutipan “Pada tahun 1932, dalam buku terhitung”. Selain itu latar
waktu dapat dilihat dari tahun penulisan cerpen ini pada tahun 1994-1995,
Ø Latar
tempat : Jawa Barat, kampung Jahlun, Samudera Hindia, bandara
Soekarno-Hatta, Makkah (tanah suci). Yang menunjukan latar tempat ini
berada di daerah Jawa Barat dapat dilihat dari latar belakang kehidupan
pengarang yang berasal dari daerah Jawa Barat (Majalengka). Selain itu juga
yang menunjukan cerpen
ini berlangsung di Jawa Barat dilihat
dari pengarang menggunakan kata Ambu (Sunda): Panggilan untuk ibu,
Abah (Sunda): Panggilan untuk Ayah, kolotokan (Sunda):
Lonceng pada leher kerbau, ujang (Sunda): Panggilan Untuk anak
laki-laki, Dipiring (Sunda): diiringi/disertai, sakarah (Sunda): uman Kotak besar terbuat dari kayu
untuk mengamankan barang-barang jamaah haji.
d)
Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang
menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis
serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelekual
dan emosi pembaca (Aminuddin, 1984:71).
Dalam cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” Bahasa yang
digunakan dalam cerpen
ini adalah bahasa sehari-hari, kalimatnya
pendek-pendek, namun pengarang menggunakan beberapa majas dalam cerpen ini
diantaranya:
Personifikasi
: “Dalam letih kelebat
terpal serta angguk- angguk malas bendera negara”
Hiperbola
: “Ada pusaran maha-air”
Simile : “bergangsing
seperti tarian mabuk”
e)
Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang
direka dan dijalin dengan seksama, yang mengerakan jalan cerita melalui rumitan
kearah klimaks dan selesaian.
Ada berbagai pendapat tentang tahapan-tahapan peristiwa
dalam suatu cerita. Aminuddin (1984:94) membedakan tahap-tahap peristiwa atas
pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, peleraian, dan penyelesaian.
Ø Pengenalan, adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita rekaan yang
memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Dalam cerpen Jalan Lurus Menuju
Mati dapat kita ketahui tokoh-tokohnya seperti Abah, Ambu, Soleh, Wak Sarmun,
Haji Kadhib, istri Wak Sarmun, Muazin Wasih, dan orang-orang kampung jahlun
Ø Konflik atau tikaian, adalah ketegangan atau pertentangan
antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita rekaan. Pertentangan ini
bisa terjadi dalam diri satu tokoh, antar dua tokoh, antar tokoh dan masyarakat
atau lingkunganny, antar tokoh dan alam, antar tokoh dan Tuhan, serta konflik
lahir dan konflik batin. pada kutipan “entah
berapa lama, soleh tak pernah mengingatnya lagi. Mungkin sepuluh, dua puluh,
atau bahkan empat puluh tahun. Yang soleh ingat, ketika itu ambu jadi lebih
diam. Jika malam, ambu mengaji dengan suara pelan. Kemudian, mengelus-elus
rambut soleh dan bertanya sebelum tidur, “apakah kamu sudah berdoa untuk kakek
dan abah, ujang?” soleh mengangguk meskipun sungguh tak mengerti. Semua orang
kampung berdoa karena abah dan kakek berlayar ke Tanah Suci. Untuk apa ke Tanah
Suci? Dapat kita lihat ada konflik batin dalam diri Soleh.
Ø Komplikasi atau rumitan, dalam tahap ini konflik yang terjadi
semakin tajam karena berbagai sebab dan kepentingan yang berbeda dari setiap
tokoh
“Mengarungi samudra luas
berbulan-bulan dengan sebuah layar adalah permainan maut. Sungguh tak
terpikirkan andaikan bukan milik jiwa-jiwa perkasa karena selembar nyawa
sungguh amat berharga. Adakah jiwa yang lebih besar dari pada seseorang dengan
kerelaan, tulus mengorbankan seluruh apa yang ia miliki demi tumpahan air mata
dipadang lepas dengan teriakan labbaik Allahumma labbaik?”
Ø Klimaks, puncak rumitan yang diikuti oleh krisis titik balik
“Manakala daging menjadi satu noktah
di titik badai semesta, atau kaki-kaki melepuh di atas hamparan pasir terbakar
matahari begitu dekat, dalam perjalanan bukit-bukit,berhari-hari,
berminggu-minggu, bertahun…tumbuhlah kemudian adalah hati karena hidup adalah
keteduhan pengabdian. Kematian adalah cahaya.”.
Ø Leraian pada tahap ini peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan
lakuan perkembangan kearah selesai. Kita lihat kutipan “dan Soleh adalah potret dari
keterperangaan seorang tokoh, betapa waktu telah berlalu begitu cepat; sepuluh,
dua puluh,atau empat puluh tahun. Tak ada layar yang menghidupkan kembali
kenangannya pada Ambu, pada cerita “ hadra maut” yang abadi, ataupun tentang
ribuan unta yang bergerak berhari-hari …..
Ø Selesaian adalah tahap akhir suatu cerita, dalam tahap ini semua
masalah dapat diuraikan kita lihat
kutipan “dan kini, makna itu seolah-olah
hilang berabad-abad. Sedangkan, soleh telah begitu tua, sedang Ambu telah lama
terkubur di sini, sedang Abah dan Kakek entah kapan akan kembali”
Cerpen jalan lurus Menuju Mati
memiliki maju karena ceritanya mengisahkan perjalanan ke Tanah Suci pada zaman
dahulu hingga sekarang.
f)
Sudut Pandang
Sudut pandang adalah tempat
sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang
tokoh, peristiwa, tempat, waktu, dengan gayanya sendiri.
Cerpen “jalan lurus menuju mati”
menggunakan sudut pandang orang ketiga.
g)
Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari
seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok
persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengarangnya itu
dimaksudkan untuk memecahkan pokok permasalahan, yang di dalamnya akan terlibat
pandangan hidup dan cita- cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan
amanat. Dengan demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk
menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacannya. Jadi amanat pokok yang
terdapat pada cerpen “Jalan Lurus Menuju Mati” karya Joni Aryadinata adalah Perintah untuk
menunaikan Ibadah haji semata-mata bukan karena mendambakan status sosial dalam
masyarakat, melainkan karena ketaatannya pada Allah semata. Setinggi apapun jabatannya yang
membedakan di mata Allah hanyalah ketaqwaannya.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Cerpen “Jalain Lurus
Menuju” Mati karya Joni
Ariadinata ini merupakan sebuah cerpen yang menarik, melalui cerpen ini kita dapat belajar memaknai arti haji
yang sesungguhnya. Bahwa perintah untuk menunaikan Ibadah haji semata-mata
bukan karena mendambakan status sosial dalam masyarakat, melainkan karena
ketaatan kita pada Allah semata.
Melalui cerpen ini juga, kita dapat
belajar dari masa lalu, berangkat ke tanah suci merupakan perjuangan yang
sangat berat, namun kini kita mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menunaikan
ibadah haji, dan tidak sesulit dahulu. Kita sebagai
seorang yang faham akan pengetahuan dan agama, sudah selayaknya mengangkat
kembali nilai-nilai perjuangan dan ketaatan dalam menunaikan ibadah haji yang
seakan berkurang.
DAFTAR PUSTAKA.
Ariadinata, Joni. 2004. Malaikat
Tak Datang Malam Hari. Jakarta: DAR Mizan.
Siswanto, Dr. Wahyudi.2008. pengantar teori sastra. Jakarta: PT
Grasindo.
Junus, Umar. 1998. Resepsi Sastra : Sebuah Pengantar :
Jakarta : Gramedia.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang :
IKIP Malang.
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York :
Holt, Rinehart and Winston.